Tentang

ANU

Kata “anu” itu kecil, tetapi menarik sekali karena ia adalah “kata serbaguna” dalam bahasa Indonesia. Menurut KBBI, anu berarti: yang tidak disebutkan namanya, bisa orang, benda, dan sebagainya; atau sesuatu yang namanya terlupa atau tidak diketahui. Contoh KBBI: “Si Anu membeli anu di toko anu.” Secara sederhana, anu berarti:  “itu lho… yang itu… yang saya lupa namanya / tidak mau saya sebut / belum jelas.”

Yang menarik: anu bukan hanya tanda lupa, tetapi juga alat sosial. Orang Indonesia sering memakai “anu” untuk menjaga rasa, sopan santun, atau ambiguitas. Misalnya: “Boss, ini ada karyawan yang agak anu…”

Kalimat itu bisa berarti karyawan itu agak sulit, agak bermasalah, agak aneh, agak sensitif, atau ada sesuatu yang tidak enak disebut langsung. Di sini anu berfungsi sebagai peredam sosial. Ia membuat kalimat tidak terlalu kasar.

Jadi “anu” punya tiga fungsi besar:

  • Pertama, fungsi kognitif: pembicara lupa kata yang tepat. “Yang buat buka botol itu apa? Anu… pembuka botol.”
  • Kedua, fungsi sosial: pembicara sengaja tidak menyebut karena sopan, sungkan, atau menjaga perasaan. “Orangnya agak anu kalau diajak kerja sama.”
  • Ketiga, fungsi retoris: pembicara membuat pendengar menebak sendiri. “Ya pokoknya jangan anu-lah.”

Dalam konteks Jawa/Indonesia sehari-hari, “anu” sering menjadi kata yang sangat bergantung pada konteks, nada suara, relasi pembicara, dan situasi.

Sejarah dan asal-usul

Asal-usul pastinya tidak mudah dipastikan secara populer. KBBI lebih memberi makna, bukan sejarah etimologis. Wiktionary membandingkan “anu” Indonesia dengan kata serupa dalam bahasa Iban, dan untuk beberapa bahasa Austronesia lain ada bentuk yang mirip sebagai kata pengganti sesuatu yang tidak disebut.

Insight yang menarik: bentuk a-nu / anu tampaknya bukan sekadar kebetulan lokal Jawa atau Indonesia modern. Dalam rumpun Austronesia, banyak bahasa punya kata tanya, kata tunjuk, atau kata pengganti yang bunyinya mirip: anu, ano, anó. Misalnya dalam Tagalog ada ano yang berarti “apa”; bentuk reduplikasinya anu-ano juga tercatat sebagai bentuk pronominal.

Jadi kemungkinan besar “anu” berakar dalam kebiasaan bahasa-bahasa Austronesia untuk memakai bentuk pendek sebagai kata pengganti sesuatu yang belum dinamai.

“Anu” sebagai placeholder

Dalam linguistik, kata seperti “anu” sering disebut placeholder word atau placeholder name: kata sementara yang dipakai ketika nama sebenarnya lupa, tidak diketahui, tidak penting, atau sengaja tidak disebut. Merriam-Webster memberi definisi serupa untuk kata Inggris thingamajig, yaitu sesuatu yang sulit diklasifikasikan atau namanya tidak diketahui/lupa.

Bahasa

Padanan

Nuansa

Indonesia anu orang/benda/tindakan yang tidak disebut
Inggris thingy, thingamajig, whatchamacallit, so-and-so benda/orang yang lupa atau sengaja disamarkan
Italia coso / cosa “si anu”, “benda anu”; dari cosa = benda/hal
Jepang あの / ano “um…”, “itu…”, juga penanda ragu atau menarik perhatian
Jawa/Indonesia lisan anu, si anu, anu-ne sangat kontekstual, bisa sopan, lucu, menyindir, atau tabu

Dalam bahasa Italia, coso dipakai seperti “thingy” dalam Inggris; ia berasal dari cosa, artinya benda/hal. Daily Italian Words menjelaskan bahwa coso dipakai ketika orang tidak ingat atau tidak tahu nama benda/orang, dan kadang bernada agak merendahkan.

Dalam bahasa Jepang, あの / ano menarik karena bunyinya mirip “anu”. Tetapi fungsinya tidak persis sama. Ano sering berarti “um…”, “uh…”, atau “excuse me…” ketika orang sedang ragu, membuka percakapan, atau mencari kata.

Mengapa kata ini terasa sangat Indonesia?

Karena “anu” cocok dengan budaya komunikasi yang sering tidak langsung. Dalam banyak percakapan Indonesia, terutama Jawa, tidak semua hal disebut frontal. Ada ruang untuk:

  • sungkan,
  • ewuh pakewuh,
  • menjaga muka,
  • menghindari kata kasar,
  • membiarkan lawan bicara menangkap maksud dari konteks.

Contoh: “Mohon maaf, proposalnya masih agak anu.”  Kalimat itu lebih halus daripada: “Proposalnya masih buruk / tidak rapi / belum matang.”

Jadi “anu” bisa menjadi alat diplomasi bahasa.

Sisi lucu dan ajaib dari “anu”

Kata “anu” dapat menggantikan hampir semua kelas kata:

Nomina:
“Anunya hilang.”
= bendanya hilang.

Nama orang:
“Si Anu tadi telepon.”
= orang tertentu, tidak disebut namanya.

Verba/tindakan:
“Jangan anu di sini.”
= jangan melakukan sesuatu yang tidak pantas.

Adjektiva/sifat:
“Orangnya agak anu.”
= sifatnya sulit dijelaskan, mungkin aneh, sensitif, mencurigakan, menyebalkan, atau lain-lain.

Topik sensitif:
“Urusan anu itu jangan dibahas dulu.”
= urusan tertentu yang mungkin rahasia/sulit/sensitif.

Inilah kehebatannya: makna “anu” tidak tinggal di kamus, tetapi tinggal di konteks.

Insight menarik

“Anu” adalah contoh indah bahwa bahasa bukan hanya soal menyampaikan informasi, tetapi juga mengatur jarak sosial.

Kata “anu” bisa berarti:

“Saya tahu maksudnya, kamu mungkin tahu maksud saya, tapi kita sama-sama tidak perlu mengatakannya terlalu terang.”

Itulah sebabnya “anu” bisa terasa lucu, sopan, ambigu, menyindir, bahkan nakal—tergantung situasi.

Dalam satu kata kecil, ada memori, kesopanan, tabu, humor, dan strategi komunikasi. “Anu” adalah semacam ruang kosong yang disepakati bersama antara pembicara dan pendengar.

Selamat anu di anu.fyi