Ada persahabatan pikiran yang tidak masuk hitungan siapa pun. Seorang sosiolog agnostik Polandia-Inggris yang menghabiskan hidupnya mendiagnosis kerapuhan dunia, dan seorang Paus dari Argentina yang memimpin miliaran umat. Apa yang bisa menyatukan Zygmunt Bauman dan Paus Fransiskus? Bekerja bertahun-tahun di lingkungan keuskupan membuat saya terbiasa melihat perjumpaan iman dan dunia, tetapi dialog yang satu ini tetap membuat saya takjub. Dari pertemuan ide keduanya lahir wawasan-wawasan yang relevan bukan hanya bagi akademisi atau umat beriman, melainkan bagi siapa saja yang mencoba memahami dan menyembuhkan dunia kita yang serba tidak pasti.
1. "Cahaya di Ujung Terowongan": Ketika Sosiolog Pesimis Menemukan Harapan pada Paus
Bauman terkenal dengan konsep "modernitas cair" (liquid modernity): diagnosis tajam tentang masyarakat kontemporer yang ditandai "kerapuhan, kesementaraan, kerentanan, dan kecenderungan untuk terus berubah". Dalam dunia cair itu, institusi, hubungan, dan identitas individu kehilangan soliditasnya, dan manusia hidup dalam "keadaan ketidakpastian permanen yang menghasilkan segala macam kecemasan". Banyak orang membaca analisisnya sebagai pandangan yang suram.
Justru karena itu mengejutkan: sang diagnostik pesimis menemukan harapan yang luar biasa pada seorang Paus. Bauman terpesona oleh tindakan Paus Fransiskus, terutama kunjungannya ke Lampedusa untuk menemui para migran. Baginya itu bukan sekadar gestur belas kasihan, melainkan konfrontasi langsung terhadap "globalisasi ketidakpedulian" dan sistem yang menghasilkan "kehidupan yang terbuang", konsep-konsep yang telah ia teoretiskan selama puluhan tahun. Kekagumannya sampai pada kesejajaran historis: pendekatan Fransiskus, katanya, adalah sesuatu yang "belum pernah kita dengar sejak zaman Yohanes XXIII".
"Masa kepausannya tidak hanya memberikan kesempatan bagi Gereja Katolik tetapi juga bagi seluruh umat manusia."
2. "Ekonomi Cair": Bahasa Sosiologis yang Diadopsi oleh Vatikan
Kekaguman itu ternyata tidak searah. Paus Fransiskus secara aktif mengadopsi dan mengadaptasi istilah sosiologis Bauman untuk memperkaya ajaran sosialnya. Bayangkan: leksikon seorang sosiolog agnostik sekuler dipakai oleh kepala Gereja Katolik di panggung dunia untuk mengkritik kapitalisme global. Momen yang langka.
Dalam pidato penerimaan Penghargaan Charlemagne tahun 2016, Paus Fransiskus memperkenalkan konsep "ekonomi cair" (liquid economy): sistem ekonomi yang hanya berorientasi pada pendapatan dan spekulasi, dan siap memakai korupsi demi meraup keuntungan. Sebagai lawannya ia menawarkan resep "ekonomi sosial", sistem yang berinvestasi pada manusia, menciptakan lapangan kerja yang bermartabat, dan melayani kebutuhan nyata masyarakat.
3. Kritik Bersama terhadap "Budaya Buang": Saat Evangelii Gaudium Menggemakan Pikiran Bauman
Titik temu terkuat keduanya adalah kritik terhadap sistem ekonomi yang menghasilkan korban manusia. Bauman menyebutnya "kehidupan yang terbuang" (wasted lives); Paus Fransiskus menyebutnya "ekonomi eksklusi" yang melahirkan "budaya buang" (throw away culture). Dua istilah, satu luka yang sama.
Bauman begitu terkesan pada analisis Paus dalam dokumen apostolik Evangelii Gaudium sehingga mengutipnya panjang-panjang. Di sana ia menemukan diagnosis moral yang paling komprehensif terhadap kapitalisme yang tidak terkendali, selaras dengan diagnosis sosiologisnya sendiri.
"Sama seperti perintah 'Jangan membunuh' menetapkan batas yang jelas untuk menjaga nilai kehidupan manusia, hari ini kita juga harus mengatakan 'jangan' pada ekonomi eksklusi dan ketidaksetaraan. Ekonomi semacam itu membunuh... Manusia itu sendiri dianggap sebagai barang konsumsi untuk digunakan lalu dibuang."
Komentar Bauman setelah mengutip paragraf itu hanya satu kalimat, dan satu kalimat itu berbicara banyak:
"Tidak ada yang perlu ditambahkan, tidak ada yang perlu dikurangi."
4. Dialog Sejati sebagai Seni Paling Penting
Bagi Bauman dan Paus Fransiskus, keterampilan yang paling mendesak bagi umat manusia adalah dialog. Bukan perdebatan untuk menang, melainkan seni praktis membangun jembatan. Mengutip sosiolog Richard Sennett, Bauman memberi kriteria yang konkret: dialog sejati harus "informal, terbuka, dan kooperatif". Tiga kata yang mudah diucapkan, sulit dijalani.
Bauman secara khusus menunjuk wawancara Paus Fransiskus dengan Eugenio Scalfari, seorang jurnalis ateis terkemuka, sebagai contoh dialog yang otentik. Tujuannya bukan mengubah keyakinan lawan bicara, melainkan saling memahami. Alternatif dari seni yang sulit ini, bagi mereka berdua, hanya satu: konfrontasi yang merusak.
5. Dari "Kecairan" Menuju "Kekonkretan": Jawaban Paus atas Diagnosis Bauman
Paus Fransiskus tidak berhenti pada mengadopsi diagnosis; ia mengusulkan resep penyembuhannya. Inilah puncak intelektual dari dialog mereka. Dalam sebuah pidato di Universitas Roma Tre, Paus mengartikulasikan antitesisnya dengan jelas:
"...inilah masyarakat cair, Bauman telah membicarakannya sejak lama... Kita harus menerima tantangan untuk mengubah kecairan ini menjadi kekonkretan. Melawan kecairan: kekonkretan."
Kekonkretan (concreteness) adalah jawaban langsung terhadap kecairan (liquidity). Wujudnya tindakan nyata: solidaritas, pelayanan kepada yang rentan, dan ekonomi sosial yang berakar pada kebutuhan nyata manusia, bukan pada spekulasi virtual. Air tidak bisa digenggam; batu bisa dijadikan pijakan. Resep Paus sesederhana itu: di dunia yang serba meleleh, buatlah sesuatu yang bisa dipegang orang.
Dialog Zygmunt Bauman dan Paus Fransiskus memperlihatkan konvergensi yang luar biasa: sang diagnostik agnostik menemukan harapan pada seorang Paus, dan sang Paus menemukan bahasa yang tepat untuk zamannya dari seorang sosiolog. Yang satu memberi diagnosis tentang dunia yang cair; yang lain mengesahkannya dan menuliskan resep berupa kekonkretan. Pertanyaan mereka kini menjadi pertanyaan kita: di tengah dunia yang penuh perpecahan, sanggupkah kita meniru kemampuan dua pemikir besar ini menemukan kesamaan pandangan demi kemanusiaan?