Teknologi Belajar

Pertanyaan yang Sudah Tahu Jawabannya

Pertanyaan yang Sudah Tahu Jawabannya

Ada satu kolom di hampir setiap formulir yang selalu menahan pulpen sebentar.

Kolom itu biasanya muncul paling akhir, setelah semua pilihan yang rapi sudah lewat. Namanya lain-lain. Kadang ditulis dan sebagainya. Kadang cuma sebuah kotak kosong tanpa nama, dengan garis putus-putus di dalamnya, seolah minta maaf karena ada.

Kolom itu adalah pengakuan.

Pengakuan bahwa yang membuat formulir sudah menduga-duga siapa pengisinya, dan meleset. Bahwa daftar pilihannya tidak cukup panjang untuk memuat orang yang sedang memegang pulpen di depannya. Dan bahwa daripada mengubah pertanyaannya, lebih mudah menyediakan satu kotak kecil untuk menampung semua yang tidak muat.

Coba pikirkan sebentar. Sebuah dropdown itu sebenarnya apa?

Kita menyebutnya pertanyaan. Tetapi ia bukan pertanyaan. Ia adalah daftar jawaban yang sudah diizinkan lebih dahulu. Ia bertanya dengan syarat bahwa jawabannya harus salah satu dari kalimat yang sudah ia siapkan. Kalau hidup seseorang tidak muat di salah satunya, ia harus memilih yang paling mendekati, lalu berbohong sedikit, lalu menekan tombol kirim.

Dan formulir itu akan tersenyum. Data masuk. Validasi lolos. Tidak ada yang salah.

Padahal ada yang salah.

Bertanya dan menagih

Ada satu buku kecil dari Edgar Schein yang judulnya sederhana, Humble Inquiry. Isinya satu gagasan saja, dan gagasan itu terasa terlalu sepele untuk dijadikan buku sampai orang benar-benar mencobanya.

Bertanyalah tentang hal yang jawabannya belum kita ketahui.

Itu saja. Bacalah sekali lagi pelan-pelan, lalu hitung berapa banyak pertanyaan hari ini yang lolos ujian itu.

"Sudah makan?" tidak lolos. "Bukankah lebih baik begini?" jelas tidak lolos, itu perintah yang menyamar. "Kamu paham, kan?" bahkan bukan pertanyaan, itu tekanan yang diberi tanda tanya. Dan "ada pertanyaan?" di ujung rapat adalah pertanyaan yang paling jujur menipu, karena ia diucapkan justru saat semua orang sudah tahu bahwa jawabannya harus tidak ada.

Kata inquiry berasal dari in-quaerere. Mencari ke dalam. Bukan menagih, bukan menguji, bukan memancing supaya orang lain mengucapkan kalimat yang sudah disiapkan untuknya.

Yang lucu, kata kuesioner datang dari akar yang persis sama. Quaerere. Mencari.

Satu kata melahirkan dua anak yang saling membelakangi. Yang sulung mencari dengan tangan terbuka. Yang bungsu mencari dengan daftar pilihan di tangan, dan sudah memutuskan apa yang boleh ditemukan.

Setinggi tanah

Kata humble datang dari humilis, dan humilis datang dari humus. Tanah.

Rendah hati, secara harfiah, artinya berada setinggi tanah.

Ini bukan sekadar permainan kata. Ini keterangan tentang posisi. Orang yang rendah hati bukan orang yang merendahkan dirinya, melainkan orang yang tahu dari bahan apa ia dibuat. Tanah. Sama seperti orang di seberang meja. Sama seperti orang yang sedang mengisi formulirnya.

Yang mencengangkan, kata humiliate juga tumbuh dari akar yang sama. Merendahkan dan direndahkan lahir dari tanah yang satu itu juga. Bedanya hanya pada siapa yang memutuskan. Kerendahan hati adalah turun sendiri. Penghinaan adalah diturunkan orang lain.

Mungkin karena itu bertanya terasa berisiko. Setiap pertanyaan yang jujur adalah langkah turun, dan tidak pernah ada kepastian apakah kita sedang turun atau sedang diturunkan.

Kerendahan hati yang ketiga

Schein membagi kerendahan hati menjadi tiga, dan pembagian ini kelihatannya remeh sampai jelas bahwa hanya yang ketiga yang benar-benar berguna.

Yang pertama, kerendahan hati di hadapan orang yang lebih tinggi kedudukannya. Ini otomatis. Badan berdiri sedikit lebih tegak, suara mengecil sendiri, dan tidak ada yang memilihnya.

Yang kedua, kerendahan hati di hadapan orang yang prestasinya jauh melampaui kita. Ini masih bisa dihindari. Cukup menjauh dari orang-orang semacam itu, mencari lingkaran pergaulan yang membuat kita merasa cukup pintar, dan selesai.

Yang ketiga inilah yang menusuk. Schein menyebutnya kerendahan hati di sini dan saat ini. Rasa rendah hati yang muncul bukan karena orang lain lebih tinggi, bukan karena ia lebih hebat, melainkan karena untuk urusan ini, hari ini, kita bergantung padanya.

Bukan soal siapa lebih besar. Soal siapa yang memegang bagian yang tidak saya pegang.

Dan di situlah kita paling sering gagal. Hormat kepada atasan masih bisa. Kagum kepada yang berprestasi masih bisa. Tetapi mengakui bahwa kita bergantung pada orang yang pangkatnya di bawah kita, itu perkara lain. Schein menulis kalimat yang tidak enak dibaca: orang lebih sering memilih gagal daripada mengakui bahwa ia butuh orang lain.

Hening yang disangka lancar

Schein menghabiskan banyak halaman untuk contoh yang mengerikan. Ruang operasi, tempat seorang perawat melihat dokter akan melakukan kesalahan, lalu diam. Kokpit pesawat sebelum jatuh. Pabrik yang meledak, padahal orang di lantai bawah sudah tahu berminggu-minggu sebelumnya.

Polanya selalu sama. Orang yang berada di bawah tahu sesuatu yang bisa menyelamatkan. Dan ia tidak mengatakannya. Atau ia mengatakannya, dan tidak ada yang mendengar.

Tidak perlu ruang operasi untuk mengenali ini.

Bayangkan rapat mana pun. Di menit terakhir, pemimpin rapat menutup dengan kalimat yang paling sering diucapkan di negeri ini. Ada pertanyaan?

Hening. Semua orang menunduk ke arah layar ponsel. Rapat ditutup, dan pemimpin rapat pulang dengan perasaan bahwa semuanya berjalan lancar.

Padahal tidak ada yang lancar. Yang terjadi cuma satu: tidak ada yang mau jadi orang pertama.

Kita punya nama sendiri untuk hal ini, dan namanya jauh lebih tepat daripada istilah mana pun dalam buku Schein. Ewuh pakewuh. Bukan takut. Bukan tidak peduli. Hanya rasa tidak enak yang begitu halus sampai tidak bisa dibantah, dan begitu kuat sampai menutup mulut orang dewasa yang tahu apa yang sedang terjadi.

Hening dalam rapat bukan tanda bahwa semuanya jelas. Hening itu data. Kita saja yang salah membacanya.

Kursi yang pernah kita duduki semua

Ada satu ruangan lagi, dan hampir semua orang pernah duduk di dalamnya.

Ruang praktik dokter. Keluhannya sudah disusun sejak semalam. Dokter bertanya dua atau tiga hal, secukupnya untuk sampai ke diagnosis. Lalu ia mulai berbicara.

Dan pasiennya duduk di sana, memegang kalimat yang tidak sempat keluar, sambil mengangguk.

Bukan karena dokternya jahat. Ia hanya sedang bekerja dengan efisien, dan efisiensi selalu berarti berhenti bertanya secepat mungkin. Pertanyaan itu mahal. Pertanyaan memakan waktu. Dan yang paling mahal dari sebuah pertanyaan sejati adalah bahwa ia bisa membuat jawaban yang sudah kita siapkan menjadi tidak berguna.

Schein sendiri memulai bukunya dengan cerita yang jauh lebih sepele. Ia sedang mengagumi jamur yang tumbuh setelah hujan, dan seorang ibu yang lewat menghentikannya untuk memberitahu, dengan suara keras, bahwa beberapa jamur itu beracun. Ia menjawab bahwa ia tahu. Ibu itu menambahkan bahwa beberapa di antaranya bisa membunuh.

Dorongan untuk memberi tahu ternyata jauh lebih kuat daripada dorongan untuk bertanya. Bahkan kepada orang asing. Bahkan tentang jamur.

Pengakuan

Di titik ini harus ada kejujuran, kalau tidak tulisan ini berubah menjadi ceramah, dan ceramah adalah bentuk paling murni dari memberi tahu.

Ketika seseorang bercerita, nasihat saya sudah tersusun rapi jauh sebelum ia selesai bicara. Kalimatnya sudah dipotong di kepala. Kesimpulannya sudah diambil di paragraf ketiga. Dari luar kelihatan seperti sedang mendengarkan, dan memang diam, tetapi itu bukan mendengarkan.

Itu menunggu giliran.

Dan pertanyaan yang keluar sesudahnya bukan pertanyaan. Itu hanya pintu yang dibuka supaya nasihat bisa lewat dengan sopan.

Malu bertanya

Peribahasa itu sudah dihafal sejak sekolah dasar. Malu bertanya, sesat di jalan.

Tetapi peribahasa itu hanya memperingatkan setengah bahaya. Ada sesat jenis lain, dan jenis inilah yang lebih sering terjadi pada orang dewasa yang merasa sudah sampai.

Terlalu rajin memberi tahu, sesat juga. Bedanya, yang ini sesat ramai-ramai, dan sepanjang jalan semua orang merasa benar.

Schein tidak menjanjikan teknik. Tidak ada daftar tujuh pertanyaan ajaib di bukunya, dan memang tidak mungkin ada. Yang ia tawarkan cuma sikap, dan sikap tidak bisa dilatih dengan skenario.

Yang bisa dilakukan jauh lebih sederhana, dan justru karena itu lebih sulit.

Sekali sehari, ajukan satu pertanyaan yang jawabannya benar-benar belum diketahui. Lalu tutup mulut. Lalu tunggu, bahkan ketika heningnya mulai terasa tidak enak. Terutama ketika heningnya mulai terasa tidak enak.

Karena di dalam hening itulah orang menimbang apakah ia aman untuk berbicara.

Dan kalau ia akhirnya berbicara, kemungkinan besar yang keluar bukan salah satu dari pilihan yang sudah disiapkan. Ia akan mengatakan sesuatu yang tidak muat di kolom mana pun.

Itu bukan jawaban yang salah. Itu jawaban yang sebenarnya, dan selama ini ia menunggu di kolom lain-lain.

← Post sebelumnya Proses yang Tak Terlihat