Berita dan ulasan teknologi
Ada satu kolom di hampir setiap formulir yang selalu menahan pulpen sebentar. Kolom itu biasanya muncul paling akhir, s...
Sejak pertama kali serius belajar Linux, ada satu kata yang tidak pernah selesai menahan langkah. Kata itu muncul di daf...
Ditanya dewan direksi "apa itu cookie?", Isaac Sacolick menjawab satu kalimat bahasa bisnis, bukan kuliah teknis. Digital Trailblazer adalah kisah metamorfosis dari teknisi penghuni rawa detail menjadi pemimpin yang melihat seluruh hutan, tanpa kehilangan empati pada manusia di balik sistem.
David J. Gee menggambarkan perjalanan menuju kursi CIO dan CISO sebagai pendakian: bisa mendaki manual lewat kegagalan sendiri, bisa naik gondola lewat pengalaman orang lain. Buku ini adalah gondolanya, dari model SKEB sampai 90 hari pertama yang menentukan.
Kalau semua perusahaan bisa membeli teknologi yang sama, mengapa hanya sebagian yang menjadi Digital Master? Buku ini menjawab dengan dua kaki: kapabilitas digital sebagai mesin, kapabilitas kepemimpinan sebagai kemudi.
Martha Heller menunjukkan bahwa CIO terjebak kontradiksi bawaan: dipekerjakan untuk menjadi strategis, dipaksa menjadi operasional. Paradoks itu tidak bisa dihilangkan, tetapi bisa ditunggangi, dan kuncinya adalah menjadi bunglon.
Mike Walsh menegaskan kita tidak perlu lebih pintar dari mesin, cukup tahu apa artinya pintar di zaman algoritmik: ubah pikiran, ubah cara kerja, ubah dunia, dan jangan biarkan algoritma menentukan siapa diri kita.
Puluhan tahun film mengajari kita bahwa mesin adalah lawan. Daugherty dan Wilson menunjukkan kursi ketiga: ruang tengah tempat manusia dan mesin duduk berdampingan, dan justru di situ nilai terbesar bersembunyi.