Teknologi Belajar

Proses yang Tak Terlihat

Proses yang Tak Terlihat

Sejak pertama kali serius belajar Linux, ada satu kata yang tidak pernah selesai menahan langkah. Kata itu muncul di daftar proses, terselip di antara angka-angka yang belum dipahami. Daemon.

Awalnya terlihat seperti salah ketik. Ternyata bukan.

Daemon adalah proses yang berjalan tanpa terminal. Tanpa jendela. Tanpa satu pun mata yang menontonnya. Ia sudah bangun jauh sebelum orang login, dan ia masih hidup ketika laptop sudah tertutup dan pemiliknya sudah tidur. Sepanjang hari ia bekerja. Sepanjang hari tidak ada yang menyebut namanya.

Benar-benar aneh kalau dipikir.

Bagaimana bisa sesuatu yang paling penting justru yang paling tidak terlihat? Bagaimana bisa satu-satunya cara sebuah daemon menarik perhatian adalah dengan gagal? Selama ia sehat, ia tidak ada. Begitu ia mati, barulah semua orang tahu bahwa ia pernah ada, dan bahwa ternyata ia penting.

Versi manusiawinya terjadi hampir tiap hari. Ada sistem yang dijaga seseorang di suatu tempat. Kalau ia berjalan mulus, tidak ada satu pun surel masuk. Sunyi. Tapi begitu ada satu baris yang tidak muncul di layar, telepon berdering dalam lima menit. Baru pada hari itu penjaganya punya nama.

Membongkar katanya

Kata daemon diambil dari bahasa Yunani, daimōn. Sebelum dicap jahat oleh sejarah yang panjang dan ruwet, artinya sederhana saja: roh. Sesuatu yang bekerja di balik yang tampak. Yang tidak kelihatan, tetapi yang membuat segala sesuatu berjalan.

Ada kata lain dengan gerak yang sama. Doulos. Ini kata Yunani yang dipakai Perjanjian Baru untuk pelayan, dan sering diterjemahkan dengan terlalu sopan. Doulos bukan pramusaji. Doulos adalah budak, orang yang tidak memiliki dirinya sendiri, yang waktunya bukan miliknya.

Dan satu lagi, yang lebih akrab di telinga orang Gereja. Ministerium, dari minister, yang akarnya minus. Yang lebih kecil.

Tiga kata dari dua bahasa, dan ketiganya menunjuk ke arah yang sama. Yang menopang selalu berada di bawah. Yang menopang selalu tidak terlihat. Aneh sekali bahwa seluruh peradaban dibangun di atas hal-hal yang tidak pernah dipandang.

Sepi ing pamrih, rame ing gawe. Orang Jawa sudah lama tahu, dan tidak perlu bahasa Yunani untuk mengatakannya.

Satu ayat, tiga kata kerja

Charles Swindoll menulis sebuah buku kecil berjudul Improving Your Serve. Buku itu tumbuh dari khotbah-khotbahnya, dan seluruhnya bertumpu pada satu ayat saja: Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani.

Satu ayat. Empat belas bab. Dan di dalamnya ada tiga kata kerja yang tidak bisa dibalik urutannya.

Memberi. Ini yang paling mudah, dan paling sering dibanggakan. Waktu diberikan, tenaga diberikan, kadang uang. Lalu diam-diam ada yang ditunggu. Bukan uangnya. Cukup pengakuan.

Memaafkan. Ini lebih berat. Memaafkan berarti melepaskan hak untuk menagih. Tetapi memaafkan masih menyisakan sesuatu di dalam laci. Catatan. Arsip. Berkas yang tidak dihapus.

Melupakan. Ini yang membuat orang berhenti membaca dan menatap dinding beberapa saat. Melupakan berarti menolak menyimpan kesalahan orang lain sebagai senjata yang sewaktu-waktu bisa dikeluarkan. Bukan lupa karena ingatan lemah, tetapi lupa karena sengaja tidak mau memakainya.

Swindoll bercerita tentang dua kakak-beradik perempuan yang tinggal serumah dan berhenti bertegur sapa. Mereka membagi kamar dengan garis kapur. Bertahun-tahun mereka tidur di ruangan yang sama, mendengar napas satu sama lain di kegelapan, dan tidak satu kata pun keluar.

Mereka sudah memaafkan, mungkin. Tetapi mereka tidak pernah menghapus arsipnya.

Pengakuan

Sebelum tulisan ini jadi, buku itu diringkas lebih dulu. Hasilnya cukup memuaskan. Rapi, terstruktur, ada tabel, ada glosarium.

Lalu ringkasan itu dibaca ulang, dan hasilnya mengagetkan.

Yang keluar ternyata bukan buku Swindoll. Yang keluar adalah kosakata yang sedang ramai di sekeliling kita. Psychological safety. Retensi talenta. High trust culture. Kepemimpinan pelayan sebagai strategi keberlanjutan organisasi.

Semuanya benar. Semuanya bagus. Dan semuanya meleset.

Karena di halaman-halaman awal, Swindoll justru mengaku risih setiap kali orang merangkai kata pelayan dan pemimpin menjadi satu istilah yang manis. Baginya dua kata itu terasa seperti pasak bundar yang dipaksa masuk ke lubang persegi. Bukunya tidak ditulis untuk pemimpin. Bukunya ditulis untuk siapa saja.

Saya menerjemahkan pelayan menjadi pemimpin, dan bahkan tidak sadar sedang menerjemahkan.

Apa yang tumpah di jalan

Ada dua hal yang jatuh dan pecah dalam perjalanan terjemahan itu.

Yang pertama, upah yang ditunda. Manajemen mengukur dalam kuartal. Buku ini justru berkata bahwa sebagian besar upah seorang pelayan tidak diterima di bumi, dan bahwa yang dinilai adalah mutu, bukan jumlah. Coba bayangkan sistem penilaian kinerja yang laporannya baru terbit di kekekalan. Tidak ada HRD di dunia ini yang mau memakainya.

Yang kedua, sisi gelap. Swindoll menyediakan satu bab penuh untuk memberitahu pembacanya bahwa pelayan akan dimanfaatkan, akan dipakai, akan merasa tidak dihargai. Ia tidak menghibur siapa pun. Ia hanya memberi tahu lebih dulu, supaya orang tidak kaget.

Tidak ada buku manajemen yang berani menulis kalimat semacam itu. Kalimat semacam itu tidak menjual.

Dan ketika dua hal ini dibuang, pelayanan berubah menjadi teknik. Teknik selalu punya pamrih. Teknik selalu menunggu hasilnya, dan menghitung kapan ia balik modal.

Kembali ke daemon

Sebuah daemon melayani ribuan orang setiap hari tanpa sekali pun meminta disebut namanya. Ia menyala pukul tiga pagi ketika tidak ada seorang pun yang membutuhkannya, dan ia tetap menyala. Ia tidak marah ketika lupa dihargai. Ia hanya bekerja.

Orang yang membangunnya justru sulit sekali begitu.

Mungkin memang itu urutannya, dan selama ini kita membaliknya. Bukan pemimpin yang belajar melayani. Melainkan pelayan yang, kadang-kadang, tanpa pernah memintanya, dipercaya untuk memimpin.

Yang pertama menghasilkan jabatan. Yang kedua menghasilkan orang.

 

← Post sebelumnya MAGNIFICA HUMANITAS Post berikutnya → Pertanyaan yang Sudah Tahu Jawabannya