Komik

Asterix dan orang-orang normandia

Asterix dan orang-orang normandia

Memuat dokumen PDF...

Apa jadinya orang yang tidak pernah merasa takut? Kedengarannya hebat. Tetapi album ini justru bertanya sebaliknya: jangan-jangan rasa takut itu perlu, sampai-sampai ada bangsa yang berlayar jauh hanya untuk mempelajarinya.

Cerita dibuka dengan sepucuk surat. Abraracourcix, Kepala Desa Galia, menerima kabar dari saudaranya di Lutetia, Paris kuno. Saudaranya mengirim Goudurix, keponakannya yang modis, lemah lembut, dan mudah ketakutan, ke desa Galia. Tujuannya: agar pemuda kota itu dididik Asterix dan Obelix menjadi seorang Galia yang tangguh dan berani. Anak kota dikirim ke desa untuk digembleng. Sudah terbayang lucunya.

Bersamaan dengan kedatangan Goudurix, sekelompok perompak Normandia, leluhur bangsa Viking, berlayar ke pantai Armorika. Anehnya, mereka datang bukan untuk menjarah. Mereka datang untuk belajar tentang rasa takut. Mereka yakin rasa takut akan memberi mereka "sayap" dan kemampuan untuk "terbang". Sebuah pepatah yang mereka telan mentah-mentah. Karena mereka bangsa yang sangat pemberani dan tidak pernah merasakan takut, mereka harus mencari guru: seseorang yang sangat penakut.

Dan siapa yang lebih penakut daripada Goudurix? Dalam kepanikannya, ia sendiri mengaku sebagai orang paling penakut di seluruh dunia. Pengakuan itu kebetulan didengar mata-mata Normandia, dan jadilah Goudurix dianggap sebagai Juara Ketakutan yang mereka cari-cari. Pemimpin Normandia, Timahadaf, menculiknya. Asterix dan Obelix pun memulai misi penyelamatan untuk membawa Goudurix kembali.

Puncaknya menarik. Dalam situasi yang ekstrem, Goudurix mengeluarkan teriakan keras yang mengejutkan dan membuat bingung orang-orang Normandia. Yang mendorong teriakan itu bukan rasa takut, melainkan rasa marah. Tetapi orang Normandia yakin itulah manifestasi rasa takut yang mereka cari. Merasa sudah "belajar", mereka memutuskan pulang ke tanah airnya dengan puas.

Album ini memparodikan dua hal sekaligus: jurang budaya antara pemuda perkotaan Lutetia dan penduduk desa Galia, serta stereotip bangsa Normandia yang gagah berani tetapi nyaris tanpa emosi, terutama rasa takut. Saya jadi berpikir: keberanian yang tidak pernah mengenal takut itu bukan keberanian, melainkan kebutaan. Berani justru berarti tetap melangkah walau gemetar.

← Post sebelumnya Asterix di Tengah-tengah Orang Swis Post berikutnya → Asterix dan cleopatra