Komik

Asterix di olimpiade

Asterix di olimpiade

Memuat dokumen PDF...

Skandal doping ternyata bukan barang baru. Jauh sebelum ada tes urine dan sidang komite etik, komik "Asterix di Olimpiade" (judul asli: Astérix aux Jeux Olympiques, atau Asterix at the Olympic Games) sudah menertawakannya. Bagaimana jadinya kalau sebuah desa yang seluruh kekuatannya bersumber dari ramuan ikut lomba yang melarang segala ramuan? Di situlah lucunya. Di situ pula jujurnya.

Kisah dimulai di kamp Romawi terdekat. Seorang legiuner atletis bernama Gluteus Maximus sedang berlatih keras untuk Olimpiade. Kabar tentang pesta olahraga di Yunani itu sampai ke desa Galia, dan seketika seisi desa bersemangat ikut serta. Alasan mereka sederhana dan sedikit nakal: Caesar sendiri sudah menyatakan Galia bagian dari Kekaisaran Romawi, jadi mereka berhak bertanding sebagai "Gallo-Romawi". Legiun Romawi tentu frustrasi bukan main.

Seluruh pria desa pun berlayar ke Olympia, Yunani. Yakin sekali mereka akan menyapu bersih semua medali, berbekal Ramuan Ajaib buatan Panoramix. Sampai di sana, aturan kuno menampar mereka: semua atlet dilarang menggunakan zat yang dapat meningkatkan kinerja, termasuk Ramuan Ajaib. Aturan itu berlaku rata untuk semua, orang Yunani maupun Romawi. Galia putus asa. Para atlet Romawi yang tadinya berharap Galia didiskualifikasi pun ikut lemas.

Lalu bagaimana dengan Obelix? Panoramix menjelaskan bahwa Obelix memang tidak boleh minum ramuan. Obelix menuntut tetap diperbolehkan bertanding: kekuatannya permanen, bukan hasil doping. Setelah perdebatan panjang, panitia mengizinkannya, meskipun ia sendiri bingung dan frustrasi karena dilarang meneguk ramuan. Di arena, lempar cakram dan lempar lembing ia dominasi dengan mudah, medali diraih. Sayang, di tengah perayaan kemenangannya ia dituduh tidak memenuhi syarat sebagai atlet Romawi dan didiskualifikasi. Obelix yang sedih dikeluarkan dari pertandingan.

Tinggallah Asterix, satu-satunya wakil Galia yang sah. Ia harus bertanding bersih, tanpa setetes ramuan. Di lomba lari ia hampir kalah dari para atlet Romawi. Panoramix mengerutkan kening: atlet yang sekuat itu pasti curang. Maka disusunlah rencana cerdik. Panoramix menawarkan Ramuan Ajaib kepada para atlet Romawi, kali ini dengan nama samaran "Ramuan Istimewa". Para Romawi yang putus asa langsung meminumnya.

Lomba terakhir dimulai. Asterix berlari sedikit, lalu berhenti. Berhenti begitu saja. Panitia Yunani kebingungan dan menanyainya. Asterix menunjuk para atlet Romawi yang baru saja meminum ramuan Panoramix, lalu membuka rahasianya: Ramuan Ajaib membuat lidah peminumnya berwarna biru. Lidah biru itu bekerja seperti kertas lakmus, sekali diperiksa, kecurangan langsung kelihatan warnanya. Semua atlet Romawi terbukti berlidah biru dan didiskualifikasi. Asterix, satu-satunya pelari yang tersisa, dinobatkan sebagai pemenang dan menerima mahkota zaitun. Kadang cara paling jitu memenangkan lomba memang bukan berlari paling cepat, melainkan berhenti pada saat yang tepat.

Bagian penutupnya yang paling saya suka. Asterix menyerahkan mahkota kemenangannya kepada Gluteus Maximus, atlet Romawi yang tidak bersalah dan paling kompetitif, demi menyelamatkan martabat Romawi di mata Caesar. Orang Jawa punya sebutan untuk sikap semacam ini: menang tanpo ngasorake, menang tanpa merendahkan yang kalah. Desa Galia pulang dan merayakan semuanya dengan perjamuan, dan Obelix akhirnya terhibur oleh babi hutan dalam jumlah besar. Satirnya tajam, tentang doping dan korupsi dalam olahraga, tetapi disajikan sambil tertawa.

← Post sebelumnya Asterix di inggris Post berikutnya → Asterix gladiator