Memuat dokumen PDF...
Seorang pemeriksa keuangan diracun karena menyelidiki korupsi seorang pejabat. Ini bukan berita hari ini. Ini komik Asterix di Tengah-tengah Orang Swiss (Astérix chez les Helvètes), terbit puluhan tahun lalu. Korupsi memang penyakit yang awet.
Ceritanya bermula ketika Inspektur Keuangan Romawi bernama Bhathukrhejanhus datang ke desa Galia untuk menyelidiki korupsi yang dilakukan Gubernur Condate, Malarius. Sebelum sempat melaporkan temuannya, ia diracun oleh sang gubernur. Nyawanya hanya bisa diselamatkan oleh ramuan penawar, dan Panoramix, tabib desa, tahu resepnya. Masalahnya satu: penawar itu harus mengandung bahan yang sangat langka, Bunga Bintang Perak alias edelweiss, yang hanya tumbuh di pegunungan Helvetia, Swiss.
Maka Asterix dan Obelix diutus dalam perjalanan berbahaya ke Swiss untuk mencari bunga itu. Sepanjang jalan, Gubernur Malarius berusaha keras menghentikan mereka. Logikanya sederhana: kalau ramuan penawar tidak jadi dibuat, rahasia korupsinya aman. Kejahatan selalu berusaha memotong jalan menuju kesembuhan.
Di Swiss, mereka bertemu orang-orang Helvetia yang terkenal dengan keteraturan, kebersihan, dan kecintaan pada fondue. Bagian inilah yang paling menggelikan. Ada urusan serius soal nyawa, tetapi Asterix dan Obelix malah harus menghadapi situasi lucu seputar lubang keju yang terkenal dan tata cara makan fondue yang unik. Bank rahasia, keteraturan yang ketat, fondue: stereotip Swiss diparodikan satu per satu.
Setelah berbagai petualangan di pegunungan dan berurusan dengan pihak Romawi di sana, keduanya berhasil mendapatkan Bunga Bintang Perak dan kembali tepat waktu. Panoramix meramu penawarnya, dan Inspektur Bhathukrhejanhus pun selamat.
Sebuah bunga kecil di puncak gunung untuk melawan racun di meja kekuasaan. Perbandingan itu tinggal lama di kepala saya. Yang menyembuhkan memang sering harus dicari jauh dan didaki tinggi.