Komik

Asterix mawar dan pedang bermata dua

Asterix mawar dan pedang bermata dua

Memuat dokumen PDF...

Apa jadinya kalau desa para pendekar yang tak terkalahkan itu digoyang bukan oleh legiun, melainkan oleh tuntutan kesetaraan? Pertanyaan itulah yang dimainkan album ke-29 seri Asterix, "Mawar dan Pedang Bermata Dua" (judul asli: La Rose et le Glaive, dalam bahasa Inggris Asterix and the Secret Weapon). Temanya terasa sangat modern: feminisme dan kesetaraan gender, dibungkus humor khas Galia dan Romawi.

Revolusi kecil di desa Galia

Semua bermula dari urusan pendidikan. Para wanita desa tidak puas dengan pengajaran biduan desa yang suaranya sumbang, Assurancetourix (Cacofonix). Ia dipecat. Sebagai gantinya mereka mendatangkan biduan wanita dari Lutetia (Paris) bernama Maestria (Bravura), sosok yang progresif dan feminis. Maestria tidak sekadar mengajar menyanyi. Ia mengajarkan para wanita menuntut hak yang sama dan menentang otoritas suami mereka. Sebuah revolusi kecil pun menyala di desa itu.

Para pria, dipimpin Kepala Desa Abraracourcix (Vitalstatistix), merasa tertekan dan tidak nyaman oleh tuntutan kesetaraan yang datang tiba-tiba. Mereka memilih mundur: keluar dari desa dan mengasingkan diri di hutan, meninggalkan desa dalam kendali penuh para wanita. Asterix sendiri, yang sejak awal skeptis pada niat Maestria, ikut terusir. Ia dituduh berbuat tidak sopan karena secara refleks memukul Maestria setelah wanita itu menciumnya. Lucu, sekaligus getir. Bukankah keributan di rumah kita pun sering bermula dari salah paham sekecil itu?

Senjata rahasia Caesar

Di Roma, Julius Caesar membaca kekacauan itu sebagai peluang emas. Ia mengeluarkan senjata rahasianya: satu kontingen Legiun Romawi yang seluruhnya terdiri dari legiuner wanita, Centuria Feminina, dipimpin Claudius Prenlomnibus. Hitung-hitungannya sederhana. Para pejuang Galia menjunjung kode kesopanan kuno yang disebut galanteri; mereka tidak akan mau, dan tidak akan berani, memukul wanita.

Dan benar. Ketika pasukan wanita Romawi mendekat, para pria Galia di hutan hanya bisa bingung, sebab mereka memang tidak tega memukul wanita. Tangan yang biasa merontokkan legiun kini terikat oleh sopan santun sendiri. Sebuah dilema moral sekaligus dilema militer.

Di sinilah Asterix menunjukkan kecerdikannya. Setelah berbaikan dengan Maestria, ia menyusun rencana licik yang memanfaatkan naluri wanita Galia dan Romawi sekaligus. Maestria disarankan menggelar Festival Perdagangan Besar di desa, menjual segala mode dan kemewahan terbaru dari Lutetia. Ketika para legiuner wanita tiba di desa yang tidak dijaga itu, mereka sama sekali tidak tertarik berperang. Mereka langsung terserap oleh godaan belanja, mode, dan kosmetik yang ditawarkan para wanita Galia. Misi tempur menguap begitu saja. Senjata paling ampuh ternyata bukan pedang bermata dua, melainkan etalase belanja.

Prenlomnibus mencoba menghentikan anak buahnya. Sia-sia. Maestria mengeluarkan pedang bermata dua miliknya dan menghajar sang komandan, sementara para pria Galia menghajar pasukan Romawi pria di perbatasan. Para legiuner wanita akhirnya memilih berlayar pulang ke Roma dengan kapal penuh barang belanjaan, meninggalkan Prenlomnibus yang dipermalukan.

Maestria pun meninggalkan desa, kali ini sambil memberikan pendidikan terakhirnya justru kepada kaum pria. Desa Galia kembali ke keadaan semula, dan Asterix bersama Obelix, seperti biasa, merayakan kemenangan dengan perjamuan di bawah bintang-bintang. Album ini mengajak kita tertawa sambil bercermin: kesetaraan bukan soal siapa mengalahkan siapa, melainkan soal belajar saling mendengarkan.

← Post sebelumnya asterix dan perisai dari arverna Post berikutnya → Asterix: Obelix yang malang