Belajar

Black Swan - Nassim Taleb

Selama berabad-abad orang Eropa yakin seyakin-yakinnya bahwa semua angsa berwarna putih. Jutaan angsa putih yang pernah mereka lihat menjadi buktinya. Lalu para penjelajah tiba di Australia dan menemukan angsa hitam. Satu ekor saja cukup untuk merobohkan keyakinan yang dibangun ribuan tahun. Dari kisah itulah Nassim Nicholas Taleb, penulis esai dan praktisi risiko, mengambil nama untuk bukunya yang menggelisahkan: The Black Swan.

Angsa Hitam, dalam definisi Taleb, adalah peristiwa yang memenuhi tiga syarat: ia anomali yang berada di luar dugaan, dampaknya ekstrem, dan baru bisa dijelaskan setelah terjadi. Sejarah, katanya, tidak merangkak maju sedikit demi sedikit, melainkan melompat dari satu kejutan besar ke kejutan berikutnya. Krisis keuangan, terobosan teknologi, pergeseran politik besar: hampir semuanya mengejutkan kita, namun anehnya tampak jelas dan tak terhindarkan begitu sudah lewat. Kita hidup di dunia yang penuh ketidakpastian, tetapi terus bertingkah seolah masa depan bisa dipetakan dengan rapi. Mengapa para ahli begitu sering salah meramal? Taleb tidak menawarkan bola kristal. Ia menawarkan kacamata untuk melihat cacat dalam cara kita sendiri berpikir. Lima gagasannya ini yang paling menusuk.

Perpustakaan Anti: Nilai Buku yang Belum Dibaca

Sarjana besar Italia Umberto Eco memiliki perpustakaan pribadi berisi 30.000 buku. Tamu yang datang ke rumahnya terbelah dua. Mayoritas berdecak kagum lalu bertanya, sudah berapa banyak yang Bapak baca? Minoritas kecil mengerti maksud sebenarnya: nilai sejati sebuah perpustakaan justru terletak pada buku-buku yang belum dibaca. Perpustakaan bukan etalase untuk memamerkan yang sudah kita tahu, melainkan gudang pengingat betapa luasnya yang belum kita tahu. Semakin banyak kita membaca, semakin panjang barisan buku yang belum terbaca. Para teolog abad pertengahan punya istilah yang seirama dengan ini: docta ignorantia, ketidaktahuan yang terpelajar. Kerendahan hati intelektual semacam itulah perisai pertama melawan keyakinan buta bahwa kita sudah memahami dunia.

Buku yang sudah dibaca jauh lebih tidak berharga daripada buku yang belum dibaca. Perpustakaan harus berisi sebanyak mungkin hal yang tidak Anda ketahui sesuai dengan kemampuan finansial Anda.

Jangan Jadi Kalkun

Untuk bahaya mengandalkan data masa lalu, Taleb punya metafora yang tidak akan saya lupakan: masalah kalkun. Bayangkan seekor kalkun yang diberi makan peternaknya setiap hari. Seribu hari berturut-turut ia menerima makanan, kandang, dan perlindungan. Setiap hari yang lewat memperkuat keyakinannya bahwa sang peternak sungguh baik hati. Kalau kalkun itu pandai statistik, grafiknya menunjukkan tren positif yang tak terbantahkan. Keyakinannya memuncak justru pada hari ke-1.000, saat risikonya berada di titik tertinggi. Lalu datanglah hari ke-1.001, sehari sebelum Thanksgiving.

Ini bukan sekadar dongeng. Taleb menunjuk para bankir di awal tahun 1982 yang merasa dirinya konservatif setelah bertahun-tahun meraup untung, lalu kehilangan hampir seluruh laba kumulatif sepanjang sejarah perbankan Amerika dalam satu musim panas gara-gara gagal bayar utang negara. Seperti kalkun, mereka mengira ketenangan masa lalu adalah jaminan masa depan. Padahal peristiwa yang paling mengubah hidup biasanya justru peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Anggap saja bahwa perasaan aman mencapai puncaknya ketika risikonya berada pada titik tertinggi!

Otak Kita Pendongeng yang Menipu

Taleb menyebutnya kekeliruan naratif: kecenderungan bawaan kita memaksakan sebuah cerita yang rapi pada fakta-fakta yang sebenarnya acak. Novelis E. M. Forster memberi contoh sederhana. Bandingkan dua kalimat ini: raja meninggal dan ratu meninggal; lalu, raja meninggal, dan kemudian ratu meninggal karena kesedihan. Kalimat pertama laporan fakta. Kalimat kedua sebuah cerita. Anehnya, meski kalimat kedua memuat informasi tambahan, ia terasa lebih ringan dan lebih mudah diingat. Otak kita memang mesin pembuat makna yang haus sebab-akibat; deretan kejadian yang terputus-putus membuatnya gelisah, maka disambungnyalah sendiri.

Kecenderungan ini bahkan tertanam di tubuh. Penafsir di otak kiri kita otomatis mencari pola, dan proses itu didorong dopamin, zat yang menurunkan skeptisisme dan mempertajam deteksi pola. Kekeliruan naratif bukan kebiasaan buruk yang bisa dibuang begitu saja; ia dorongan biologis. Karena itulah kita memandang sejarah ke belakang dan merasa semuanya sebenarnya bisa diramalkan. Padahal tidak.

Gagasan datang dan pergi, cerita tetap ada.

Waspadai Kuburan yang Senyap

Cerita yang rapi juga membutakan kita pada bukti yang tidak kelihatan. Kisahnya berasal dari Cicero. Sekelompok penyembah yang selamat dari kapal karam ditunjukkan lukisan orang-orang yang berdoa lalu selamat, sebagai bukti kuasa para dewa. Salah satu dari mereka, Diagoras, bertanya tajam: di manakah gambar mereka yang berdoa lalu tenggelam? Pertanyaan itu menampar. Kita hanya melihat para pemenang, karena yang selamat bercerita dan yang tenggelam membisu.

Contoh modernnya ilusi tubuh perenang. Kita melihat perenang Olimpiade yang ramping berotot lalu berpikir berenang akan membuat tubuh kita seperti itu. Kenyataannya terbalik: mereka sukses sebagai perenang karena sejak awal tubuhnya memang begitu. Jutaan orang bertubuh biasa yang gagal di kolam tidak pernah kita lihat. Begitu pula kuburan bisnis yang gagal: kita meniru langkah para pengusaha sukses seolah itu resep, tanpa melihat ribuan orang yang menempuh langkah yang sama persis dan terkubur tanpa nama. Kegagalan memang jarang tercatat; siapa yang mau menulis riwayat kekalahannya sendiri? Membangun pemahaman hanya dari para pemenang membuat kita meremehkan risiko, dan menyangka keberhasilan semata-mata buah keterampilan, padahal keberuntungan ikut bermain besar di dalamnya.

Sebagaimana para penyembah yang tenggelam tidak menulis sejarah pengalaman mereka, begitu pula dengan para pecundang dalam sejarah, entah itu orang atau gagasan.

Mediocristan atau Extremistan?

Taleb membagi dunia menjadi dua negeri khayalan. Mediocristan adalah negeri yang diatur rata-rata; penyimpangan ekstrem jarang terjadi dan tak banyak mengubah keseluruhan. Tinggi badan misalnya. Kumpulkan seribu orang di stadion, tambahkan manusia tertinggi di dunia, dan rata-rata tinggi kelompok itu nyaris tidak bergeser. Extremistan adalah negeri ketimpangan; satu pengamatan tunggal bisa menelan segalanya. Kekayaan misalnya. Kumpulkan seribu orang yang sama, lalu tambahkan Bill Gates, dan kekayaannya sendirian mencakup lebih dari 99,9 persen total kelompok. Timbangan badan hidup di Mediocristan; rekening bank hidup di Extremistan.

Celakanya, hampir semua urusan besar zaman ini, dari keuangan, teknologi, sampai politik, juga penjualan buku dan korban perang, tinggal di Extremistan, negeri tanpa batas fisik tempat sejarah bergerak melompat, bukan merangkak. Sementara kita terus memakai perkakas Mediocristan yang nyaman itu. Di situlah kita telanjang di hadapan Angsa Hitam.

Membangun Ketahanan di Hadapan Ketidaktahuan

Buku ini memang tidak dirancang untuk membuat nyaman. Kelemahan terbesar kita, kata Taleb, bukan ketidaktahuan, melainkan ilusi pengetahuan: percaya diri berlebihan pada yang kita tahu dan buta pada peran yang acak dan tak terlihat. Jawabannya bukan berusaha meramal Angsa Hitam, sebuah kesia-siaan, melainkan membangun ketahanan terhadapnya. Jauh lebih mudah menghadapi masalah Angsa Hitam, tulisnya, jika kita berfokus pada ketahanan terhadap kesalahan daripada memperbaiki prediksi. Taleb tidak mengajari kita meramal hujan; ia mengajari kita membangun rumah yang tidak bocor. Mengakui batas pengetahuan, mencurigai cerita yang terlalu rapi, bersiap untuk yang tak terbayangkan. Maka pertanyaannya untuk kita masing-masing: bagian mana dari hidup kita yang selama ini berdiri di atas keyakinan seekor kalkun?

← Post sebelumnya Madilog - Tan Malaka Post berikutnya → The Tipping Point - Malcolm Gladwell