Di dunia teknologi ada satu kata yang seolah jadi doa harian: upgrade. Selalu ada versi yang lebih baru, lebih cepat, lebih banyak fiturnya. Yang kemarin membanggakan, hari ini sudah terasa usang. Dan diam-diam kita percaya bahwa hidup pun mestinya begitu: terus menanjak, terus bertambah, tak pernah berhenti.
Tetapi kalau kemajuan selalu membawa kebaikan, mengapa dunia justru terasa makin sesak oleh persoalan? Krisis iklim, polusi, stres, ketimpangan. Semuanya tumbuh seiring "pertumbuhan" itu sendiri.
Jason Hickel, seorang antropolog ekonomi, dalam bukunya Less is More mengajak kita berhenti sejenak. Benarkah kita membutuhkan pertumbuhan tanpa henti untuk hidup sejahtera? Bukunya bukan sekadar kritik. Ia lebih seperti tepukan lembut di pundak yang membuat kita tersadar: mungkin selama ini kita salah paham soal kata "maju".
Kapitalisme Ternyata Bukan Kisah Pahlawan
Banyak orang mengira kapitalisme datang untuk membebaskan manusia dari feodalisme. Hickel bercerita sebaliknya. Pada abad ke-14, rakyat kecil di Eropa sebenarnya mulai hidup lebih layak: upah naik, jam kerja berkurang, dan mereka lebih berkuasa atas hidupnya sendiri.
Justru keadaan itu membuat para bangsawan panik. Tenaga kerja murah menghilang. Apa jalan keluar mereka? Menggusur tanah-tanah milik bersama lewat kebijakan enclosure, pemagaran. Rakyat kehilangan sumber penghidupan dan terpaksa menjual tenaganya dengan upah rendah.
Jadi kapitalisme tidak lahir dari kemajuan, melainkan dari perampasan besar-besaran. Dan pola itu masih terasa sampai hari ini, ketika hutan, air, dan udara kita dikorbankan atas nama "pertumbuhan ekonomi".
"Pertumbuhan Hijau" Cuma Janji Manis
Kita sering mendengar hiburan ini: tak apa ekonomi terus tumbuh, kan bisa pakai energi hijau. Hickel mengingatkan, itu ilusi.
Teknologi yang makin efisien malah membuat konsumsi naik, karena biaya turun dan produksi pun ditambah. Energi terbarukan belum sanggup mengejar permintaan dunia yang terus membengkak. Dan membuat panel surya serta baterai itu sendiri menuntut pertambangan besar-besaran yang merusak. Lebih lucu lagi, banyak rencana iklim global menggantungkan harapan pada teknologi yang belum terbukti seperti BECCS, yang konon butuh lahan seluas dua kali India hanya untuk menyerap karbon. Bayangkan, dua kali India, demi menambal satu janji.
Selama ekonomi masih mengejar pertumbuhan tanpa batas, yang "hijau" pun perlahan bisa berubah kelabu.
Hidup Bahagia Tak Butuh PDB Naik Terus
Kita mudah percaya bahwa negara kaya pasti rakyatnya bahagia. Data berkata lain. Setelah pendapatan melewati satu titik tertentu, tambahan PDB hampir tak lagi menaikkan mutu hidup.
Lihatlah Kosta Rika. Negara kecil ini punya harapan hidup lebih tinggi daripada Amerika Serikat, padahal PDB-nya jauh di bawah. Rahasianya? Akses kesehatan, pendidikan, dan solidaritas sosial yang kuat. Ternyata kesejahteraan bukan soal seberapa banyak yang kita punya, melainkan seberapa adil kita membaginya.
Akar Krisis: Alam Kita Anggap Benda Mati
Hickel menelusuri akar paling dalam dari semua krisis ini, dan menemukannya pada cara kita memandang alam. Sejak zaman Descartes di abad ke-17, manusia mulai memisahkan diri dari alam. Alam dianggap mesin mati yang boleh dikeruk sesuka hati.
Padahal banyak budaya lama memandangnya lain sama sekali: bumi sebagai keluarga, bukan sebagai gudang bahan baku. Alam memberi, manusia membalas memberi. Ada rasa syukur dan hormat yang menjaga keseimbangan. Bagi saya yang percaya bahwa dunia ini ciptaan, gagasan itu terasa akrab: kita penatalayan, bukan pemilik. Hickel mengajak kita pulang ke kesadaran itu, bahwa kita bukan penguasa alam, melainkan sehelai benang dalam jaring kehidupan yang sama.
Penutup: "Kurang" Bisa Jadi Jalan Hidup yang Lebih Baik
Less is More bukan sekadar buku ekonomi. Ia ajakan untuk hidup lebih waras. Bahwa "lebih banyak" tidak selalu berarti "lebih baik". Dunia yang lestari hanya lahir dari keberanian mengucap satu kata yang makin langka: cukup.
Barangkali inilah saatnya kita mengubah cara berpikir. Bukan lagi memburu pertumbuhan tanpa henti, melainkan belajar menikmati hidup secukupnya, sambil merawat bumi tempat kaki kita berpijak.