Belajar

Genome: The Autobiography of a Species in 23 Chapters karya Matt Ridley

Ada yang menakjubkan bila direnungkan: di dalam setiap sel tubuh Anda tersimpan sebuah buku berisi petunjuk lengkap cara membangun diri Anda sendiri. Anda membawanya ke mana-mana, ke pasar, ke kantor, ke tempat tidur, tanpa pernah membacanya. Miliaran tahun buku itu ada, dan tak ada satu makhluk pun yang sanggup membukanya.

Sampai pada 26 Juni 2000. Hari itu, untuk pertama kalinya dalam sejarah kehidupan, sebuah spesies berhasil membaca resepnya sendiri. Pengumuman rampungnya draf kasar genom manusia menandai saat kita akhirnya bisa mengunduh, kalau boleh dibilang begitu, instruksi utuh untuk merakit dan menjalankan tubuh manusia. Dan begitu para ilmuwan mulai membedah isinya, mereka mendapati buku ini jauh lebih aneh, lebih berantakan, dan lebih mengejutkan daripada yang pernah dibayangkan. Inilah lima temuan paling ganjil dari Genome karya Matt Ridley.

Buku Anda Raksasa, dan Sebagian Besar Isinya "Sampah"

Bayangkan genom sebagai sebuah buku, dan ini buku paling raksasa yang pernah ada. Ia berisi satu miliar kata, para ahli menyebutnya kodon. Jumlahnya setara dengan 800 Alkitab. Andai Anda membacanya satu kata per detik, delapan jam sehari, Anda perlu satu abad penuh untuk menamatkannya. Satu abad, hanya untuk membaca diri sendiri sekali.

Tetapi inilah kejutannya: 97 persen dari buku raksasa ini bukan gen yang sesungguhnya. Sebagian besar kerap dijuluki "DNA sampah", atau lebih tepatnya "DNA egois". Lalu apa isinya? Kebanyakan DNA parasit. Bayangkan genom Anda seperti hard disk yang penuh virus. Ada LINE-1, parasit genetik yang membawa mesin penggandanya sendiri; ada Alus, parasit yang lebih kecil lagi, yang malah membajak mesin milik LINE-1 untuk memperbanyak diri. Satu-satunya tujuan mereka: memastikan dirinya terus disalin. Bahkan resep protein yang paling sering muncul di seluruh genom manusia bukan untuk sesuatu yang berguna bagi tubuh, melainkan untuk alat gandakan-diri milik para parasit itu.

Genom, ternyata, bukan cetak biru yang dirancang rapi dan hemat. Ia dokumen berantakan yang menulis dirinya sendiri, penuh coretan sisa miliaran tahun evolusi dan infeksi. Sebuah catatan sejarah yang kusut, bukan buku manual yang tertib.

Kita Kera yang "Gagal", dan Kromosom Kita Lebih Sedikit

Sebuah fakta biologis yang mengejutkan: sampai tahun 1955 para ilmuwan yakin manusia punya 24 pasang kromosom, sama seperti simpanse, gorila, dan orangutan. Ternyata kita perkecualian. Kita cuma punya 23 pasang. Bukan karena sepasang hilang, melainkan karena dua kromosom kera leluhur kita menyatu jadi satu. Kromosom 2 manusia, yang terbesar kedua, sesungguhnya hasil peleburan dua kromosom kera berukuran sedang.

Kita gemar menaruh manusia di puncak pohon evolusi. Genom menuturkan kisah yang jauh lebih rendah hati. Kita adalah kera, kelompok yang nyaris punah lima belas juta tahun lalu kalah bersaing dengan monyet yang tubuhnya dirancang lebih baik. Kita adalah primata, yang hampir lenyap empat puluh lima juta tahun lalu di hadapan hewan pengerat. Kita adalah tetrapoda sinapsida, reptil yang hampir habis dua ratus juta tahun lalu digilas dinosaurus. Kita keturunan ikan bersirip cuping, yang nyaris punah tiga ratus enam puluh juta tahun lalu. Kita chordata, yang lolos dari era Kambrium lima ratus juta tahun lalu dengan susah payah di tengah artropoda yang jauh lebih perkasa. Garis keturunan kita adalah barisan panjang para penyintas yang tak pernah diunggulkan.

Keberhasilan kita bukan sebuah keniscayaan, melainkan buah perjuangan melawan rintangan yang berat. Kita bukan puncak sebuah rancangan, melainkan penyintas beruntung dari serangkaian peristiwa yang nyaris mematikan.

Bakteri Mungkin Lebih "Berevolusi" daripada Manusia

Anggapan bahwa manusia adalah "puncak evolusi" itu keliru. Evolusi tak punya puncak; tak ada yang namanya kemajuan evolusioner. Bakteri di sumber air panas dasar laut, kata Ridley, boleh jadi lebih berevolusi daripada seorang pegawai bank. Mengapa? Karena masa hidupnya yang teramat pendek memberinya jauh lebih banyak kesempatan untuk mengasah gen-gennya agar pas dengan lingkungan.

Ada teori yang lebih mengejutkan lagi: pohon kehidupan yang kita kenal mungkin terbalik. Buku pelajaran biasa melukiskan makhluk pertama sebagai sel sederhana macam bakteri, yang lalu berevolusi jadi rumit. Bukti baru menunjuk sebaliknya: organisme modern pertama justru mungkin lebih rumit, mirip protozoa. Dalam pandangan ini, bakteri adalah "keturunan yang sangat terspesialisasi dan disederhanakan" dari nenek moyang bersama kita. Mereka menjadi spesialis dengan membuang perkakas molekuler lama agar bisa hidup di tempat-tempat ekstrem.

Gagasan ini bersandar pada pisau Occam: penjelasan yang lebih sederhana lebih mungkin benar. Jauh lebih hemat mengira bakteri membuang perkakasnya daripada mengira makhluk rumit seperti kita menciptakan semuanya dari nol. Justru kitalah yang menyimpan ciri-ciri purba dari Lucas, Nenek Moyang Universal Terakhir, di dalam sel kita. Kesederhanaan bakteri bukan tanda primitif, melainkan buah evolusi yang sangat maju demi kecepatan dan efisiensi.

Ada Peperangan Antargen di Dalam Diri Anda

Kita mengira genom sebuah tim yang kompak bekerja demi kebaikan tubuh. Kenyataannya jauh lebih ruwet. Ada yang disebut "gen antagonis seksual", di mana kepentingan gen pada kromosom X dan Y tak selalu searah. Keduanya bisa berhadap-hadapan.

Bayangkan sebuah gen pada kromosom X yang membunuh sperma pembawa kromosom Y. Ia akan melahirkan keluarga yang semuanya perempuan, dan karena semua anak perempuan itu membawanya, gen tersebut menyebar cepat, berlipat di tiap generasi. Ini perlombaan senjata di tingkat gen. Konflik ini, yang disebut evolusi kontes antarlokus, adalah salah satu pendorong evolusi yang paling kuat. Ia bahkan melampaui kromosom kelamin: menurut "Teori Machiavellian", kecerdasan kita tumbuh bukan untuk membuat alat, melainkan sebagai buah perlombaan antara tipu daya dan kemampuan mengenali tipu daya di antara sesama.

Ahli biologi Bill Hamilton menyimpulkannya dengan indah. Genom bukan tim yang tunggal dan bulat, melainkan lebih mirip ruang rapat dewan perusahaan, panggung perebutan kuasa antara para egois dan faksi-faksi. Di dalam diri kita, diam-diam, ada pertempuran tak henti memperebutkan takhta genetik.

Gen Tak Sepenuhnya Menguasai Anda, Anda pun Menguasai Gen

Dari semua temuan, barangkali yang paling mengubah cara pandang adalah pembalikan urutan sebab-akibat. Kita naluriah mengira biologi adalah sebab dan perilaku adalah akibat; gen adalah takdir, kita bonekanya. Tetapi sains modern menunjukkan hubungan itu berjalan dua arah.

Ambil hormon kortisol. Stres batin, peristiwa dari luar yang diolah otak, memicu keluarnya kortisol, yang lalu menyebar ke seluruh tubuh dan sibuk "menyalakan gen-gen". Pikiran pun, ternyata, bisa langsung memengaruhi kerja gen. Serotonin memberi contoh yang sama persisnya: kadar serotonin seekor monyet naik atau turun mengikuti bagaimana ia memandang kedudukannya sendiri dalam kelompok. Perilaku dan tanggapan sosial membentuk ulang kimia otak, yang lalu membentuk perilaku berikutnya.

Jauh dari perilaku yang tunduk pada belas kasihan biologi, biologi kita justru sering tunduk pada belas kasihan perilaku kita.

Gen bukan cuma sebab; ia juga akibat dari tindakan dan pengalaman kita. Di sinilah "nature" dan "nurture" tak lagi bermusuhan, melainkan dua sisi dari satu keping yang sama, terus bercakap-cakap satu sama lain.

Penutup: Otobiografi yang Terus Ditulis Ulang

Membaca genom manusia menyingkapkan satu kebenaran yang dalam: otobiografi spesies kita bukan cetak biru yang beku dan menentukan segalanya. Buku itu penuh "sampah" parasit, ditulis oleh garis keturunan para penyintas yang tak diunggulkan, tokoh-tokohnya yang paling sederhana justru paling banyak disunting, dan antarbabnya sarat konflik.

Yang terpenting, bab-bab terakhirnya interaktif. Kita, sang pembaca, ikut menentukan jalan ceritanya. Pengetahuan ini merendahkan hati sekaligus menguatkan. Merendahkan, karena kita bukan puncak evolusi yang mustahil dielakkan. Menguatkan, karena kita bukan boneka takdir genetik. Lewat pikiran, tindakan, dan lingkungan, kita ikut menentukan gen mana yang menyala. Genom bukan titah yang sekali jadi, melainkan percakapan yang tak pernah selesai. Maka, bagaimana Anda hendak menulis bab berikutnya dari otobiografi Anda sendiri?

← Post sebelumnya The Digital Transformation Playbook Post berikutnya → Gnome