Belajar

Madilog - Tan Malaka

Meja kerja saya nyaman. Ada listrik, ada kopi, ada layar yang menyala setia. Setiap kali menulis dalam kenyamanan seperti ini, saya teringat bahwa salah satu buku filsafat terpenting Indonesia justru lahir dari kondisi sebaliknya: persembunyian, kesunyian, dan bayang-bayang kelaparan. Buku itu Madilog, buah pikiran Tan Malaka, ditulis sambil bersembunyi dari kejaran Kempeitai, polisi rahasia Jepang, setelah lebih dari 20 tahun ia terasing dari tanah airnya.

Madilog adalah akronim: Materialisme, Dialektika, Logika. Isinya sebuah ajakan besar untuk meninggalkan apa yang ia sebut "logika mistika" dan beralih ke cara berpikir yang rasional, ilmiah, dan membumi. Bagi Tan Malaka ini bukan sekadar teori. Ini senjata pemikiran yang ia yakini bisa membebaskan bangsanya.

Dari kitab legendaris itu, lima gagasan berikut yang paling melekat di kepala saya.

1. Ditulis Sembunyi-sembunyi, Nyaris Kelaparan, dan Hampir Hilang

Buku ini ditulis di Rawajati, dekat pabrik sepatu Kalibata, Jakarta. Delapan bulan lamanya, dari 15 Juli 1942 sampai 30 Maret 1943. Tiga jam setiap hari, kira-kira 720 jam seluruhnya. Sambil menulis, ia juga "mempelajari keadaan kota dan kampung Indonesia yang lebih dari 20 tahun ditinggalkan".

Kondisinya jauh dari aman. Seorang polisi Kempeitai bernama Yuansa sudah dua kali menggeledah pondok tempat ia tinggal. Naskah Madilog dan karya lainnya, Gabungan Aslia, selamat karena ditulis dengan huruf yang sangat kecil dan disembunyikan di tempat yang tidak menarik perhatian. Ancaman lain datang dari perut. "Bahaya kelaparan sudah mengintip," tulisnya. Karena kehabisan uang, Gabungan Aslia terpaksa berhenti di tengah jalan.

Naskah itu ikut ke mana pun ia lari. Ikut bersembunyi ke Bayah, Banten. Ikut menemani perjalanan mengantar romusha ke Jawa Tengah. Hampir hilang ketika ia ditangkap di Surabaya. Bisakah kita membayangkan merampungkan buku filsafat sepadat itu dalam keadaan demikian? Saya yang menulis dengan perut kenyang saja sering menyerah pada satu paragraf. Orang Jawa punya ungkapan yang pas untuk ini: ngelmu iku kelakone kanthi laku. Ilmu hanya sampai lewat laku, lewat jalan yang berat.

2. "Jembatan Keledai": Sistem Mengingat Rahasia Seorang Buronan

Lebih dari 20 tahun menjadi buronan politik, Tan Malaka berulang kali kehilangan koleksi buku dan catatannya. Di Shanghai, di Amoy, di Hongkong. Maka ia menciptakan sistem pengetahuannya sendiri, yang ia sebut "jembatan keledai", dari bahasa Belanda ezelbruggece.

Cara kerjanya sederhana sekaligus mencengangkan. Gagasan rumit dan data penting disandikan ke dalam kata-kata yang kelihatan tak berarti. AFIAGUMMI, misalnya, menyimpan analisis kekuatan sebuah negara; huruf A-nya singkatan dari Armament, persenjataan. Ada pula ONIFMAABYCI AIUDGALOG, yang bukan bahasa Sanskerta, melainkan sebuah teori ekonomi yang bertentangan dengan teori ekonomi Mahatma Gandhi. Hanya dia yang memegang kuncinya. Orang IT zaman sekarang mengenal prinsip serupa: data besar dimampatkan menjadi berkas kecil, lalu dibuka kembali dengan kunci yang tepat. Bedanya, tempat penyimpanan Tan Malaka adalah kepalanya sendiri. Satu-satunya perpustakaan yang tidak bisa disita polisi.

"Saya anggap "jembatan keledai" itu penting sekali buat pelajar di sekolah dan paling penting buat seseorang pemberontak pelarian-pelarian. Bukankah seseorang pelarian politik itu mesti ringan bebannya, seringan-ringannya?"

Dari perpustakaan di kepala itulah isi Madilog dituangkan. Dan gagasan pertamanya langsung menohok: serangan terhadap cara berpikir yang ia anggap membelenggu bangsanya.

3. Menolak "Logika Mistika" dengan Pisau Bedah Logika

Inti Madilog adalah perlawanan terhadap "logika mistika": cara berpikir yang meyakini rohani ada lebih dulu daripada zat. "Jadi rohanilah yang pertama, zatlah yang kedua," begitu Tan Malaka merumuskan pandangan yang ia tolak. Ia tidak menerima gagasan bahwa dunia muncul dari yang tidak ada menjadi ada hanya lewat kata-kata.

Contoh yang ia bedah adalah kisah dewa matahari Mesir, Rah, yang konon menciptakan bumi dan langit cukup dengan mengucapkan kata "Ptah". Tan Malaka membantahnya dengan hukum-hukum alam yang sudah teruji: Hukum Evolusi dari Darwin dan Kant, yang menjelaskan alam semesta terbentuk lewat proses jutaan tahun, serta Hukum Kekekalan Massa dan Energi dari Dalton dan Joule, yang menyatakan materi dan energi tidak bisa diciptakan dari ketiadaan, hanya bisa berubah bentuk. Ia bahkan menyodorkan sebuah trilema: Dewa Rah itu lebih kuat, sama kuat, atau lebih lemah dari hukum alam? Ke mana pun jawabannya diarahkan, menurutnya gagasan penciptaan mistis itu runtuh.

"Baik dalam kamarnya ahli pisah ataupun diluarnya tak pernah kita menyaksikan satu kata bisa menimbulkan benda. Dalam dongeng atau cerita memang kita cukup menjumpai kegaiban itu. Tetapi dalam 40 tahun belakangan ini saja, di antara 2.000.000.000 manusia itu belum pernah saya dengar satu makhluk yang bisa dengan kata saja menimbulkan seekor macan, jangankan lagi Bumi atau Bintang."

Sebagai orang yang belajar teologi, saya membaca bagian ini pelan-pelan. Tan Malaka mengarahkan pisaunya ke wilayah yang bagi saya justru hidup. Saya tidak sampai pada kesimpulan yang sama dengannya. Tetapi tuntutannya saya hormati: jangan berpikir malas. Iman yang dewasa tidak takut ditanya, dan pertanyaan Tan Malaka adalah pertanyaan yang jujur.

4. Sains Bukanlah Sihir, Melainkan "Pikiran yang Tepat"

Bagi Tan Malaka, sains bukan milik eksklusif para akademisi di menara gading. Ia merumuskannya dengan jernih dalam tiga definisi: sains ialah accurate thought, cara berpikir yang jitu, tepat, paham yang nyata; sains ialah organizations of fact, penyusunan bukti; dan sains ialah simplification by generalisation, penyederhanaan lewat generalisasi. Tiga rumusan yang bisa dipegang siapa saja, bukan hanya profesor.

Fondasi dari semuanya, menurut dia, adalah definisi. Tanpa definisi yang jelas, ilmu pengetahuan kacau balau. Maka ia menguraikan lima aturan membuat definisi ilmiah yang baik: harus singkat tetapi tidak terlalu luas atau terlalu sempit; tidak boleh berputar-putar menjelaskan kata dengan kata itu sendiri; harus memakai istilah yang lebih umum dan lebih dikenal daripada yang sedang didefinisikan; tidak boleh memakai metafora atau kata gaib yang samar; dan tidak boleh memakai kalimat negatif.

Aturan sesederhana itu. Tetapi coba periksa percakapan kita sehari-hari: berapa banyak perdebatan panas yang lahir hanya karena dua orang memakai satu kata dengan dua arti? Tan Malaka membumikan sains menjadi sesuatu yang bisa dilatih siapa saja: pikiran yang tepat.

5. Kemerdekaan Sejati Bertumpu pada "Prajurit Pekerja"

Madilog juga sebuah tesis politik yang tajam. Tan Malaka berpendapat kemerdekaan sejati Indonesia hanya bisa direbut dan dipertahankan oleh kaum proletar industri, yang ia sebut prajurit pekerja atau pekerja-mesin. Perjuangan yang hanya dipimpin kaum intelektual, menurutnya, tidak akan cukup. Runtuhnya pemberontakan PKI tahun 1927 ia baca sebagai bukti: tanpa basis kelas pekerja yang sadar dan terorganisir, setiap upaya merebut kemerdekaan akan sia-sia.

"Dua puluh tahun dulu saya sudah yakin akan kekuatan kaum proletar yang tersembunyi itu. Kini tiada kurang malah lebih yakin dari itu."

Di dunia modern, ia melihat kekuatan industri yang berbasis sains dan teknologi sebagai penentu setiap konflik. Kaum pekerja mesin itulah "tulang belakangnya ekonomi Indonesia". Karena itu Madilog ditulis untuk mempersenjatai kelas ini dengan cara pandang yang materialis, dialektis, dan logis, supaya mereka sadar akan kekuatan dan posisi historisnya sebagai motor pembebasan bangsa.

Warisan Berpikir untuk Masa Depan

Madilog adalah monumen ketahanan intelektual. Ditulis dalam kondisi paling ekstrem, ia membuktikan bahwa pikiran yang tajam tidak bisa dibelenggu oleh ancaman fisik. Orang boleh berbeda jauh dari Tan Malaka soal iman dan ideologi. Saya salah satunya. Tetapi ajakannya untuk berpikir jernih, memeriksa definisi, dan tidak menelan takhayul mentah-mentah tetap berharga bagi siapa saja.

Pertanyaannya kini bukan apakah pemikiran Tan Malaka masih relevan. Pertanyaannya: sudahkah kita berpikir sejernih dan sedisiplin itu, dalam keadaan yang jauh lebih nyaman daripada pondok persembunyiannya?

← Post sebelumnya Sapiens karya Yuval Noah Harari Post berikutnya → Black Swan - Nassim Taleb