Outlier itu sebenarnya istilah statistik. Artinya titik data yang letaknya menyendiri, jauh terpencil dari kerumunan titik lainnya. Orang-orang semacam Bill Gates atau The Beatles adalah outlier dalam arti itu: pencapaian mereka begitu jauh dari rata-rata sampai kita kehabisan penjelasan. Maka kita pun memakai penjelasan yang paling gampang: mereka jenius, mereka bekerja keras, mereka berhasil seorang diri. Rajin memang pangkal pandai. Tetapi siapa sebenarnya yang diberi waktu dan kesempatan untuk rajin?
Pertanyaan nakal itulah yang diajukan Malcolm Gladwell dalam Outliers. Menurutnya, kita tidak akan pernah memahami orang sukses hanya dengan menatap orangnya: kepribadiannya, kecerdasannya, bakatnya. Kita harus menoleh ke sekelilingnya. Budayanya, keluarganya, teman-temannya, bahkan tahun dan bulan kelahirannya. Empat pelajaran dari buku ini paling membekas bagi saya.
Aturan Tak Terlihat Mengalahkan Bakat Murni
Seorang psikolog bernama Roger Barnsley pernah mengamati daftar pemain tim hoki junior elite di Kanada dan menemukan pola yang janggal: sebagian besar lahir bulan Januari, Februari, atau Maret. Apakah bintang-bintang hoki memang lahir di musim dingin? Bukan. Penyebabnya sepele: batas usia liga hoki Kanada jatuh pada 1 Januari. Anak yang lahir 2 Januari bermain satu liga dengan anak yang baru genap umurnya di penghujung tahun. Pada usia sembilan atau sepuluh tahun, selisih beberapa bulan itu berarti badan yang lebih besar, lebih kuat, lebih terkoordinasi. Anak-anak awal tahun pun dicap berbakat, dipilih masuk tim elite, dilatih pelatih terbaik, bermain lebih banyak pertandingan. Ibarat lomba lari yang garis startnya tidak sejajar, tetapi semua penonton hanya melihat siapa yang menyentuh pita finis. Pada usia tiga belas tahun mereka memang sungguh lebih hebat. Bukan karena bakat bawaan, melainkan karena keunggulan kecil yang terus digulung sistem menjadi besar. Mereka tidak lahir sebagai outlier. Mereka dijadikan outlier oleh kesempatan yang tidak diterima anak-anak lain.
Sosiolog Robert Merton menamai gejala ini Efek Matius, diambil dari kalimat dalam Injil Matius yang bagi saya, yang sehari-hari bergaul dengan teks Kitab Suci, terasa seperti ditulis untuk zaman ini:
Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.
Gejala yang sama terjadi di sekolah. Ekonom Kelly Bedard dan Elizabeth Dhuey menemukan bahwa dalam tes matematika dan sains internasional, siswa kelas empat yang lahir di awal tahun ajaran mendapat skor jauh lebih tinggi daripada teman sekelasnya yang lebih muda. Guru keliru membaca kematangan sebagai kepandaian, lalu memasukkan anak yang lebih tua ke kelas berbakat. Keuntungan itu menumpuk dari tahun ke tahun, persis seperti di gelanggang hoki. Selisih kecil di taman kanak-kanak bisa ikut menentukan siapa yang kelak masuk universitas unggulan. Meritokrasi murni? Ternyata tidak semurni itu.
Sepuluh Ribu Jam, dan Siapa yang Diberi Jamnya
Gladwell memperkenalkan aturan 10.000 jam: keahlian kelas dunia dalam bidang apa pun yang rumit menuntut sekitar sepuluh ribu jam latihan yang disengaja. Angka itu sering dikutip sebagai pujian bagi kerja keras. Yang jarang dikutip adalah pertanyaan lanjutannya: dari mana seseorang mendapat sepuluh ribu jam? Hitung saja. Kalau berlatih dua jam sehari tanpa libur, sepuluh ribu jam berarti hampir empat belas tahun. Siapa yang punya kemewahan waktu sebanyak itu tanpa ada pintu yang dibukakan orang lain?
The Beatles mendapatkannya di Hamburg. Tahun 1960, ketika masih band SMA yang tidak dikenal, mereka diundang bermain di kota Jerman itu: delapan jam semalam, tujuh hari seminggu. Di Liverpool mereka hanya manggung satu jam dengan lagu-lagu andalan. Di Hamburg mereka dipaksa terus bermain, memperluas repertoar, menebalkan stamina. "Di Hamburg, kami harus bermain selama delapan jam," kenang mereka. Panggung Hamburg adalah kawah candradimuka yang mengumpulkan jam terbang mereka.
Bill Gates lain lagi. Keberuntungannya berlapis-lapis. Sekolahnya termasuk segelintir sekolah di dunia yang punya terminal komputer pada tahun 1968. Ketika dana sekolah habis, ibu salah seorang siswa bekerja di C-Cubed, perusahaan yang butuh penguji program di akhir pekan, dan Gates pun mendapat waktu pemrograman gratis. Rumahnya bisa ditempuh jalan kaki dari University of Washington, yang kebetulan membuka komputernya cuma-cuma antara jam tiga dan enam pagi. Remaja mana di dunia saat itu yang punya akses seperti ini? Hampir tidak ada. Kerja kerasnya nyata, tetapi kerja keras itu berdiri di atas kesempatan yang luar biasa langka.
Tidak Perlu Jadi Jenius
Mitos berikutnya: orang sukses pasti ber-IQ setinggi langit. Gladwell menunjukkan bahwa kecerdasan punya ambang. Lewat sekitar IQ 120, tambahan angka tidak lagi menambah kesuksesan di dunia nyata. Analoginya tinggi badan dalam bola basket: harus cukup tinggi untuk bermain, tetapi yang paling jangkung belum tentu yang terbaik.
Lalu apa yang membedakan? Kreativitas dan kecerdasan praktis. Ada tes divergensi yang sederhana: sebutkan sebanyak mungkin kegunaan sebatang batu bata. Orang pintar menjawab untuk membangun, untuk melempar. Orang kreatif menjawab pemberat kertas, pemecah jendela saat darurat, penahan pintu, penghancur botol Coca-Cola kosong. Kemampuan berpikir melebar seperti itulah yang kerap memisahkan pemimpi besar dari sekadar orang pintar.
Bandingkan Chris Langan dan Robert Oppenheimer. Langan ber-IQ terlalu tinggi untuk diukur secara akurat, tetapi menghabiskan sebagian besar hidupnya sebagai buruh dan penjaga bar. Oppenheimer, kepala Proyek Manhattan, punya sesuatu yang tidak dimiliki Langan: kecerdasan praktis, kepandaian membaca sistem dan membujuk orang, yang biasanya dipelajari dari pengasuhan terencana di keluarga. Oppenheimer bahkan pernah mencoba meracuni dosennya dan berhasil meyakinkan universitas agar ia cukup dihukum masa percobaan. Kelak ia meyakinkan seorang jenderal untuk menyerahkan proyek bom atom kepadanya meski ia tak punya pengalaman administrasi. Nilai rapor tidak mencatat kecakapan semacam itu, padahal justru itulah yang sering menentukan.
Warisan Nenek Moyang Ikut Menentukan
Gagasan yang paling mengejutkan saya: warisan budaya, yang diturunkan diam-diam dari generasi ke generasi, ikut membentuk nasib kita hari ini. Gladwell membuktikannya lewat para pengacara Yahudi yang sukses besar di New York. Kesuksesan mereka adalah pertemuan tiga warisan sekaligus. Pertama, keuntungan yang lahir dari diskriminasi: firma hukum elite menolak mereka, sehingga mereka terpaksa menangani pekerjaan yang dianggap kotor seperti litigasi dan pengambilalihan paksa perusahaan. Ketika pada tahun 1970-an pengambilalihan perusahaan justru menjadi bisnis raksasa, merekalah satu-satunya yang sudah puluhan tahun mengasah keahlian itu. Kedua, keberuntungan demografis: banyak dari mereka lahir tahun 1930-an, saat Depresi Besar membuat angka kelahiran anjlok, sehingga kelas sekolah lebih kecil dan persaingan lebih longgar. Ketiga, warisan kerja yang bermakna: orang tua mereka bekerja di industri garmen, pekerjaan yang seperti pertanian padi di Asia bersifat rumit, mandiri, dan langsung menghubungkan usaha dengan hasil. Petani padi harus merencanakan dengan cermat, tekun sepanjang tahun, dan menanggung sendiri buah keputusannya; para penjahit imigran itu pun menjalankan usaha kecilnya, menawar, mengelola, berhitung. Dari kerja semacam itulah etos, kecerdikan, dan inisiatif turun temurun kepada anak cucunya.
Tak seorang pun yang bisa bangun sebelum fajar tiga ratus enam puluh hari setahun gagal membuat keluarganya kaya.
Mengganti Keberuntungan dengan Kesempatan
Orang Jawa bilang, sapa nandur bakal ngundhuh: siapa menanam akan menuai. Gladwell tidak membantah pepatah itu. Ia hanya bertanya, siapa yang lebih dulu diberi lahan? Kesuksesan bukan sekadar cermin jasa pribadi. Ia tertanam dalam jalinan kesempatan, aturan, dan warisan yang jarang kita sadari.
Kesadaran ini semestinya tidak membuat kecil hati, melainkan membebaskan. Kalau kesuksesan sebagian besar dibentuk oleh sistem, maka sistem bisa dirancang untuk memberi kesempatan kepada lebih banyak orang. Fokus kita bergeser: dari memuja para pemenang menjadi membangun masyarakat yang melahirkan lebih banyak pemenang. Dan pertanyaan penutupnya layak direnungkan pelan-pelan: jika tidak seorang pun sukses sendirian, bagaimana kita menciptakan lebih banyak kesempatan bagi semua orang?