Memuat dokumen PDF...
Membaca ulang komik lama itu seperti membuka album foto keluarga: ada yang membuat tersenyum, ada yang membuat meringis. Tintin di Congo memuat dua-duanya. Dalam petualangan keduanya ini, Tintin dan Snowy berangkat ke Kongo Belgia. Episodenya beruntun: bertemu penduduk lokal, menghadapi binatang liar, lolos dari berbagai jebakan, sampai menyingkap para penjahat yang ingin menguasai produksi berlian di Kongo. Tintin.com meringkasnya dengan jenaka: Tintin "menjadi semacam penyihir" di kerajaan Babaoru'm dan menggagalkan komplotan gangster.
Ini album Tintin kedua karya Hergé. Versi awalnya diserialkan pada 1930 sampai 1931, lalu direvisi dan diterbitkan ulang dalam versi berwarna.
Album ini sekarang sering dibahas kritis karena menampilkan pandangan kolonial dan paternalistik khas Belgia awal 1930-an. Halaman resmi Tintin.com sendiri menyebutnya gambaran yang "naïf" tentang masa kolonial. Haruskah komik seperti ini disembunyikan? Saya kira tidak. Foto lama tidak menjadi bohong karena kita sudah berubah. Ia justru penggaris yang mengukur seberapa jauh kita sudah berjalan.