Pisau yang tumpul tidak dibuang; ia diasah. Orang Jawa menyebut batu asahnya watu wungkal. Menarik bahwa untuk kemampuan manusia kita memakai kata yang sama: mengasah keterampilan. Seolah-olah bakat itu sebilah pisau, dan tanpa digosok berulang-ulang ia akan tumpul dengan sendirinya.
Lalu bagaimana cara mengasahnya? Mulailah dengan menentukan bidang yang ingin dipelajari sungguh-sungguh. Pastikan minatnya kuat dan dedikasinya tinggi, sebab batu asah hanya berguna bagi pisau yang mau menempel padanya.
Selanjutnya carilah sumber belajar yang berkualitas: buku, kursus, atau mentor. Zaman ini murah hati; banyak sumber belajar tersedia secara online, sehingga kita bisa mempelajari keterampilan baru dari mana saja dan kapan saja. Lalu berlatihlah secara konsisten. Luangkan waktu setiap hari untuk belajar dan berlatih, dan kemampuan itu akan berkembang sedikit demi sedikit, seperti mata pisau yang makin tajam setiap kali digosok.
Jangan lupa berinteraksi dengan para ahli di bidang itu. Kebanyakan orang senang berbicara tentang hal yang mereka kuasai, jadi jangan takut meminta saran atau mengajak berdiskusi. Dan pakailah pengalaman sendiri sebagai guru: cobalah hal-hal baru, hadapi masalah yang muncul di bidang yang dipelajari, lalu pecahkan.
Mengasah memang membutuhkan waktu dan usaha. Tetapi adakah pisau yang tajam dalam sekali gosok? Hasilnya sangatlah berharga: kemampuan yang terus berkembang, kesuksesan dalam karier dan hidup, dan tujuan yang satu per satu tercapai.
Sumber:
Covey, S. R. (1989). The 7 Habits of Highly Effective People: Powerful Lessons in Personal Change. New York: Simon & Schuster.
Grant, A. M. (2017). Originals: How Non-Conformists Move the World. Penguin Random House.
Gladwell, M. (2008). Outliers: The Story of Success. Little, Brown and Company.