Memuat dokumen PDF...
Sebuah parit besar membelah desa itu tepat di tengah. Bukan sungai, bukan galian musuh, melainkan buatan warganya sendiri. Album ini memang unik: Asterix dan Obelix tidak bepergian jauh. Fokusnya justru perpecahan internal di desa Galia tetangga, dan parit besar itu (fossé) menjadi lambang perpecahan politik yang mendalam di antara penduduknya.
Desa itu dipimpin dua kepala suku yang bersaing. Segregarik (Chef Segregacix) didukung separuh desa, Komunalix (Chef Communalix) didukung separuh lainnya. Pasukan Romawi di bawah komandan licik Konstituenus (Tribun Lartifis) melihat perpecahan ini sebagai peluang besar. Mereka aktif memperburuk perselisihan kedua belah pihak, berharap keduanya saling menghancurkan sehingga penaklukan menjadi mudah. Untuk apa merobohkan tembok, kalau penghuninya sedang sibuk saling merobohkan?
Yang membuat urusan meledak justru cinta. Putri Segregarik, Fiancée (Amnesia), jatuh hati pada Harmonix (Hisia), putra Komunalix. Tetapi Konstituenus juga ingin menikahi Fiancée demi menguasai desa, maka ia menculik gadis itu. Dukun desa yang terpecah itu akhirnya meminta bantuan Asterix, Obelix, dan Panoramix: hentikan Romawi, satukan kembali desa yang terbelah.
Tugas mereka berlapis. Menyelamatkan Fiancée dari tangan Konstituenus. Menghadapi Romawi yang bersiap menyerbu desa yang sedang lemah. Lalu yang paling sulit, membantu kedua kepala suku berdamai. Di akhir cerita, Segregarik dan Komunalix memutuskan berduel sebagai cara terakhir untuk menentukan siapa yang memimpin desa yang sudah dipersatukan itu.
Komik ini alegori tentang perpecahan politik: konflik internal selalu menjadi pintu masuk bagi pihak luar, dan persatuan adalah syarat untuk melawan musuh bersama. Orang Jawa sudah lama merumuskannya: rukun agawe santosa, crah agawe bubrah. Yang rukun menjadi kokoh, yang bertengkar menjadi runtuh. Dan parit di tengah desa itu tidak digali oleh Romawi. Bukankah itu bagian yang paling menohok?