Di sela gedung pencakar langit dan jalanan yang macet, mata saya selalu tertarik pada satu hal kecil: pot cabai di balkon orang. Ada yang menanam di ember bekas cat, ada yang menggantung botol plastik berisi selada di pagar. Kota yang penuh beton ternyata masih menyisakan celah untuk yang hijau. Pertanyaannya, apa untungnya repot-repot berkebun di lahan sesempit itu?
Ternyata banyak. Yang pertama soal udara. Tanaman menyerap karbon dioksida dan melepaskan oksigen, sehingga udara di sekitar kita menjadi lebih segar dan bersih. Setiap pot kecil di teras sebenarnya adalah pabrik oksigen mungil yang bekerja tanpa gaji, tanpa listrik, tanpa libur.
Yang kedua soal hati. Kebun urban bisa menjadi oasis kecil di tengah hiruk-pikuk kota. Meluangkan waktu merawat tanaman, mengamati daun baru yang muncul pagi ini padahal kemarin belum ada, lalu menikmati hasilnya. Stres berkurang, kualitas hidup naik. Ada yang menyembuhkan dalam pekerjaan sesederhana menyiram.
Yang ketiga, dan ini yang paling membuat saya takjub, kebun kecil kita ternyata mengundang tamu. Burung, kupu-kupu, lebah. Mereka datang tanpa diundang begitu ada bunga yang mekar. Berkebun urban menciptakan habitat yang ramah bagi berbagai spesies, dan keanekaragaman hayati itu membuat kota bukan hanya lebih hijau tetapi juga lebih lestari. Ciptaan memang saling mencari.
Yang keempat soal meja makan. Menanam sayur dan buah sendiri mengurangi ketergantungan pada produk impor, dan itu berarti mengurangi emisi karbon dari transportasi. Bonusnya jelas: sayur segar hasil petikan sendiri, dari pot ke piring hanya beberapa langkah kaki.
Dan yang kelima soal manusia. Berkebun urban bukan hanya perkara tanaman, melainkan juga orang-orang di sekitarnya. Komunitas berkebun mempertemukan kita dengan orang-orang yang punya kepedulian yang sama pada lingkungan. Dari tukar bibit bisa lahir tukar cerita.
Jadi tidak perlu menunggu punya kebun luas. Sepetak lahan sempit, beberapa pot, sedikit ketekunan. Dari situ udara dibersihkan, hati ditenangkan, kota dihijaukan. Mari singsingkan lengan baju dan mulai dari satu pot dulu.
Sumber:
- Armstrong, D. (2000). A survey of community gardens in upstate New York: Implications for health promotion and community development. Health & Place, 6(4), 319-327.
- Brown, K. H., & Jameton, A. L. (2000). Public health implications of urban agriculture. Journal of Public Health Policy, 21(1), 20-39.
- Draper, C., & Freedman, D. (2010). Review and analysis of the benefits, purposes, and motivations associated with community gardening in the United States. Journal of Community Practice, 18(4), 458-492.
- Guitart, D. A., Pickering, C. M., & Byrne, J. A. (2012). Past results and future directions in urban community gardens research. Urban Forestry & Urban Greening, 11(4), 364-373.
- Lin, B. B., Philpott, S. M., & Jha, S. (2015). The future of urban agriculture and biodiversity-ecosystem services: Challenges and next steps. Basic and Applied Ecology, 16(3), 189-201.