Di halaman rumah ada batu yang cekung karena tetesan air dari talang. Setiap kali melihatnya saya teringat satu hal: yang melubangi batu itu bukan tetesan yang besar, melainkan tetesan yang setia. Sukses tampaknya bekerja dengan cara yang sama. Ia jarang datang seperti kilat. Ia datang seperti tetes air, lewat kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari. Lalu kebiasaan macam apa yang membentuk gaya hidup produktif?
Yang pertama justru tidak kelihatan: pola pikir positif. Ada pepatah yang mengatakan, apa yang dipikirkan, jadi kenyataan. Mulailah berpikir positif dan yakin bahwa kamu bisa. Anehnya, pola pikir seperti ini menular ke orang di sekitar, dan membuat kita sendiri lebih bersemangat menjalani hari.
Dari pikiran, turun ke target. Apa sebenarnya impianmu? Apa yang ingin kamu capai? Jangan berhenti di angan-angan. Tentukan target yang realistis, buat rencana langkah demi langkah, dan jalani dengan rajin. Di tengah jalan pasti ada halangan yang membuat semangat turun. Di situlah sikap pantang menyerah diuji. Jangan biarkan kesulitan menghentikanmu. Terus berjuang, dan sukses perlahan mendekat.
Tapi berjuang saja belum cukup. Dunia ini terus berubah, dan kita harus ikut berubah dengan terus belajar. Rajinlah membaca, rajinlah mencari ilmu. Wawasan yang bertambah membuat kita lebih siap menghadapi tantangan yang juga terus berganti rupa.
Ada satu modal yang sering dilupakan justru karena terlalu dekat: kesehatan tubuh dan pikiran. Kesehatan itu mahal. Olahraga rutin, makanan bergizi, dan istirahat cukup adalah kunci untuk tubuh. Untuk pikiran, sediakan waktu bermeditasi atau melakukan kegiatan yang menenangkan. Tubuh dan pikiran yang sehat adalah kendaraan; sebagus apa pun peta kita, kendaraan yang mogok tidak membawa kita ke mana-mana.
Lalu kembali ke soal tetesan air tadi: jangan anggap remeh kebiasaan baik. Bangun pagi, menulis jurnal, mengerjakan pekerjaan dengan sungguh-sungguh. Kecil-kecil semua. Tapi jika dilakukan konsisten, kebiasaan kecil ini membentuk karakter dan membawa kita lebih dekat ke sukses. Begitu pula dengan waktu. Waktu tidak bisa dibeli, tidak bisa diputar balik. Ia seperti pisau bermata dua: sahabat atau musuh, tergantung cara kita memakainya. Aturlah waktu untuk bekerja, belajar, dan bersantai, dan buatlah prioritas supaya tidak ada yang terbuang sia-sia.
Yang terakhir mungkin yang paling dalam: jangan hanya fokus pada diri sendiri. Pedulilah pada lingkungan dan orang-orang di sekitar. Bantulah yang membutuhkan, bagikan ilmu yang kita punya. Hidup yang dibagikan ternyata terasa lebih bahagia dan lebih bermakna. Sukses memang bukan soal materi saja, melainkan juga kebahagiaan dan kepuasan dalam menjalani hidup.
Sekarang tinggal satu langkah: mempraktikkannya. Jangan hanya dibaca. Seperti kata Mario Teguh, "kita tidak akan pernah sukses jika tidak mulai dari sekarang." Tetesan pertama boleh jatuh hari ini.
Sumber:
"7 Kebiasaan Orang Sukses", oleh Stephen R. Covey, Buku Terbitan Gramedia Pustaka Utama, 2014. "The Power of Now: A Guide to Spiritual Enlightenment", oleh Eckhart Tolle, Buku Terbitan Namaste Publishing, 1997.