Pernahkah memperhatikan anjing di halaman rumah yang tiba-tiba menggali tanah dengan penuh semangat? Saya sering terheran-heran. Untuk apa? Tanahnya tidak menyimpan apa-apa. Ternyata jawabannya jauh lebih tua dari anjing itu sendiri. Di alam liar, nenek moyang mereka menggali lubang untuk menyimpan sisa makanan, supaya aman dari pencuri dan tetap segar. Anjing di halaman kita sedang menjalankan warisan yang sama, semacam lemari es purba dalam naluri.
Kucing lain lagi. Ia bisa duduk berjam-jam menjilati dirinya sendiri, tekun sekali. Apakah itu sekadar soal bersih-bersih? Tidak hanya itu. Menjilat diri membantu kucing membersihkan bulu, mengatur suhu tubuh, dan mengurangi stres. Jadi ritual itu sekaligus mandi, kipas angin, dan terapi. Tiga fungsi dalam satu gerakan lidah. Sungguh hemat.
Burung punya drama sendiri. Banyak pemilik burung pernah melihat piaraannya mematuk-matuk cermin, kadang sampai gigih. Yang terjadi sebenarnya sederhana: burung mengira bayangan di cermin adalah burung lain. Ia mencoba berkenalan, atau bersaing, dengan lawan yang tidak pernah mundur karena lawan itu dirinya sendiri. Mirip kita yang kadang berdebat paling sengit justru dengan pikiran kita sendiri, bukan?
Kelinci kadang menggigit-gigit kandangnya. Alasannya bisa bermacam-macam: kebosanan, kecemasan, atau kebutuhan mengasah gigi yang memang terus tumbuh sepanjang hidupnya. Gigi kelinci itu seperti kuku kita, harus rutin dirawat supaya tidak kepanjangan. Bedanya, kelinci tidak punya gunting kuku, jadi jeruji kandang pun jadi sasaran.
Lalu hamster, si juara menabung. Ia mengisi pipinya dengan makanan sampai menggembung lucu. Kebiasaan ini pun berasal dari naluri mengumpulkan dan menyimpan makanan di alam liar, persediaan untuk masa ketika makanan sulit ditemukan. Pipi itu dompet sekaligus lumbung berjalan.
Semakin lama saya mengamati, semakin saya kagum. Setiap kebiasaan yang tampak lucu itu ternyata punya cerita panjang di baliknya, naluri yang tersimpan rapi seperti program yang diwariskan ribuan generasi. Ditulis, diuji, diwariskan, dan dijalankan sampai hari ini. Setiap hewan peliharaan punya keunikan sendiri, dan justru di situlah letak istimewanya. Kita tinggal belajar membacanya dengan sabar, dan mencintai mereka apa adanya.
Sumber: