Kata sosial berasal dari bahasa Latin socius, yang berarti kawan. Media sosial, kalau setia pada namanya, mestinya media untuk berkawan. Anehnya, alat berkawan ini justru sering membuat kita lupa pada kawan yang duduk di sebelah. Semua mata menunduk ke layar masing-masing. Media sosial memang sudah menjadi bagian penting dalam hidup sehari-hari, tetapi bila tidak dikelola dengan tepat, ia bisa merusak kesehatan mental dan hubungan sosial kita. Bagaimana mengelolanya dengan baik dan benar?
Pertama, tetapkan batas waktu, lalu patuhi. Bagian kedua itu yang berat. Jangan biarkan media sosial mengambil alih waktu dan perhatian dari tugas atau kegiatan penting yang lain. Ia pandai sekali berbisik: lima menit lagi. Dan lima menit itu beranak pinak menjadi satu jam.
Kedua, saring isinya. Hindari konten yang merusak kesehatan mental: yang bernada negatif, kekerasan, atau pornografi. Pilih yang positif dan membangun, seperti motivasi atau edukasi. Beranda media sosial itu seperti halaman rumah; kita sendiri yang memutuskan mau menanam bunga atau membiarkan rumput liar.
Gunakan pula untuk hal yang memang berguna: menghubungi keluarga atau teman yang jauh, mempromosikan produk atau jasa, atau belajar hal baru. Dan berhentilah membandingkan diri dengan orang lain. Ingat, kebanyakan orang hanya membagikan sisi terang hidupnya di sana; kesulitan dan kekurangannya tidak ikut diunggah. Membandingkan hidup kita yang utuh dengan potongan terbaik hidup orang lain jelas bukan perbandingan yang adil.
Bijaklah juga saat berbagi. Sebelum menekan tombol bagikan, tanyakan dua hal: benarkah ini, dan bermanfaatkah ini? Informasi yang keliru bisa merugikan orang lain, dan jarinya kita yang menyebarkannya.
Jangan pula terlalu bergantung padanya. Media sosial bukan satu-satunya sumber hiburan dan pengalaman sosial. Masih ada olahraga, buku, dan berkumpul dengan teman secara langsung. Terakhir, bagi yang punya anak: batasi akses mereka, dan pastikan mereka paham risiko serta bahayanya.
Media sosial itu alat, bukan tuan. Kelola dengan bijak dan sehat, maka manfaatnya yang datang. Biarkan ia lepas kendali, maka kitalah yang dikelolanya.