Pernahkah Anda berhenti lama di depan akuarium, sekadar memandang? Ada ketenangan aneh di sana. Padahal kalau dipikir, akuarium itu sebenarnya sebuah dunia kecil yang kita ciptakan sendiri: airnya kita tuang, suhunya kita atur, penghuninya kita pilih. Menjadi pemelihara ikan hias berarti menjadi penjaga sebuah dunia. Dan dunia itu perlu diciptakan dengan benar supaya penghuninya betah dan sehat.
Mulailah dari ukurannya. Pastikan akuarium sesuai dengan jumlah dan jenis ikan yang dipelihara. Ikan yang kekurangan ruang akan stres, dan ikan yang stres gampang sakit. Sama seperti kita yang tinggal di kamar sempit beramai-ramai: lama-lama sesak juga.
Lalu perhatikan suhunya. Usahakan suhu air selalu stabil dan sesuai kebutuhan. Setiap jenis ikan punya suhu idealnya sendiri, jadi cari tahu dulu milik ikan kesayangan Anda. Kalau perlu, pakai alat pengatur suhu supaya lebih akurat. Yang tidak kalah penting adalah pH air. pH yang pas membuat ikan lebih sehat dan aktif. Alat pengukur pH mudah didapat, begitu juga obat penambah atau pengurang pH yang banyak dijual di pasaran.
Bagaimana dengan kebersihan? Gantilah sebagian air secara berkala supaya akuarium tidak menjadi sarang penyakit. Tapi ada satu rahasia kecil di sini: jangan pernah mengganti seluruh air sekaligus. Cukup sekitar 25% sampai 50% saja. Air adalah udara bagi ikan; menggantinya total sama seperti memindahkan orang ke kota asing tanpa pemberitahuan. Kaget, tentu saja.
Setelah urusan teknis beres, barulah urusan keindahan. Lengkapi akuarium dengan tanaman dan dekorasi yang menarik. Ini bukan sekadar hiasan untuk mata kita; ikan pun makin betah tinggal di dalamnya. Asal jangan berlebihan. Sisakan ruang supaya ikan tetap bisa bergerak bebas. Terakhir, beri penerangan yang cukup. Cahaya yang pas membuat ikan tampak makin cantik, dan tanaman akuarium ikut tumbuh subur karenanya.
Begitulah cara menciptakan habitat yang ideal di akuarium. Dunia kecil itu sekarang ada di tangan Anda. Selamat mencoba, semoga ikan hias kesayangan makin betah dan sehat.
Sumber: Alam Sutera, Mongabay Indonesia