Kata komunikasi berasal dari bahasa Latin communicare, artinya membagikan, menjadikan sesuatu milik bersama. Menarik, bukan? Berbicara ternyata bukan soal mengeluarkan kata-kata, melainkan soal membuat isi kepala saya menjadi milik kita berdua. Kalau begitu, ukuran komunikasi yang baik sederhana saja: apakah yang saya maksudkan sampai utuh di seberang sana?
Dan jalan pertamanya justru bukan bicara, melainkan mendengarkan. Dengarkan sampai selesai. Jangan memotong pembicaraan, jangan pula sibuk menyusun tanggapan selagi lawan bicara masih berbicara. Telinga yang setengah mendengar itu seperti gelas yang dituang sambil miring: separuh isinya tumpah. Kalau ada yang tidak Anda pahami, jangan takut meminta penjelasan lebih lanjut.
Kedua, tubuh kita ikut berbicara. Gunakan bahasa tubuh yang sopan dan ramah: senyuman, pandangan mata yang menyapa. Tetapi ada takarannya. Menatap terus-menerus membuat orang risi, memalingkan muka membuat orang merasa diabaikan.
Ketiga, buat perencanaan sebelum berbicara. Timbang dulu apa yang ingin disampaikan, bagaimana cara terbaik menyampaikannya, dan mengapa Anda ingin mengatakannya. Pesan yang direncanakan keluar dengan jernih dan tertata. Pesan yang asal keluar sering pulang tanpa hasil.
Keempat, jauhi kata-kata negatif. Kata yang kasar atau berbau kebencian bukan hanya melukai, ia juga mengubah cara orang memandang Anda dan pesan yang Anda bawa. Reaksi yang kembali pun jarang yang baik.
Kelima, jangan takut bertanya bila belum yakin dengan maksud lawan bicara. Bertanya bukan tanda bodoh. Ia tanda Anda sungguh ingin mengerti, tanda Anda berpikir kritis dan tertarik pada topik yang sedang dibahas.
Terakhir, berlatihlah secara berkala. Keterampilan komunikasi tumbuh seperti otot: dipakai, dilatih, diulang. Berbicaralah dengan orang-orang yang Anda percayai, sambil memperhatikan bahasa tubuh dan intonasi suara Anda sendiri. Lama-lama percaya diri itu datang tanpa diundang.
Communicare, menjadikan milik bersama. Mungkin itu sebabnya percakapan yang baik selalu terasa seperti makan bersama: semua kebagian, tidak ada yang pulang lapar.
Sumber: Carnegie, D. (1936). How to Win Friends and Influence People. Simon and Schuster; Harvard Business Review (2016). HBR Guide to Better Business Writing. Harvard Business Review Press; Pease, A. & Pease, B. (2004). The Definitive Book of Body Language.