Pagi tadi saya duduk dengan secangkir kopi, tidak melakukan apa-apa, hanya duduk. Dan anehnya, itu terasa cukup. Lalu muncul pertanyaan yang menggelitik: kalau kebahagiaan semurah ini, mengapa kita mencarinya jauh-jauh? Mengapa rasanya selalu ada di tempat lain, di gaji berikutnya, di liburan berikutnya?
Saya mulai curiga kebahagiaan itu seperti kacamata yang kita cari ke mana-mana padahal sedang bertengger di kepala sendiri. Ia bersembunyi di hal-hal kecil yang kita anggap remeh. Secangkir kopi di pagi hari. Tawa bersama teman. Momen-momen sekecil itu, kalau dinikmati dan disyukuri, ternyata sudah berupa kebahagiaan. Bukan bahan bakunya. Barangnya langsung.
Tentu ada syaratnya: hidup yang seimbang. Pekerjaan, keluarga, kehidupan sosial, semuanya minta jatah waktu. Seperti tukang kayu menyetel kaki meja, kalau satu kaki terlalu panjang, seluruh meja goyang. Maka luangkan waktu untuk diri sendiri, dan jangan terlalu keras pada dirimu. Cobalah juga menuliskan hal-hal yang kamu syukuri setiap hari. Sederhana, tapi daftar itu perlahan menunjukkan betapa banyak yang sebenarnya sudah kita miliki.
Yang mencengangkan bagi saya, kebahagiaan justru bertambah ketika dibagikan. Membantu teman, memberi senyuman kepada orang asing di jalan, kebaikan kecil semacam itu memantul kembali kepada kita. Sebaliknya, ada satu kebiasaan yang diam-diam menguras: membandingkan diri dengan orang lain. Perbandingan hanya membuat kita tidak puas dengan milik sendiri. Fokuslah pada perjalanan hidupmu, karena hidup orang lain memang bukan lintasanmu.
Tubuh pun ikut bicara. Berolahraga dan menjaga pola hidup sehat terbukti mengangkat suasana hati. Begitu pula orang-orang di sekitar kita: perasaan itu menular, maka kelilingi dirimu dengan orang yang positif dan mendukung. Carilah juga hobi atau kegiatan yang benar-benar kamu nikmati. Jelajahi, coba-coba, sampai ketemu yang paling pas.
Dan sesekali, berhentilah. Rutinitas sering membuat kita lupa pada diri sendiri. Luangkan waktu sejenak untuk merenung, merefleksikan perjalanan hidup. Dari keheningan semacam itu, kesenangan sehari-hari sering kelihatan lebih jernih. Lalu teruslah belajar dan berkembang, kejar mimpi dan tujuan hidupmu, sebab manusia yang bertumbuh adalah manusia yang puas.
Jadi di mana kebahagiaan itu? Di sekitar kita, di hal-hal sederhana yang menunggu untuk dinikmati, disyukuri, dibagikan. Selamat mencoba. Semoga yang kamu cari ternyata sudah lama ada di dekatmu.