Ada pemandangan kecil yang selalu membuat saya berhenti sejenak: seseorang pulang kerja dengan wajah kusut, lalu disambut anjingnya di depan pintu. Ekor bergoyang, mata berbinar. Lima menit kemudian wajah kusut itu hilang. Ke mana perginya?
Ternyata ini bukan sekadar perasaan. Ada namanya: terapi hewan. Berinteraksi dengan binatang kesayangan, entah anjing, kucing, atau bahkan ikan hias yang cuma berenang bolak-balik, terbukti menurunkan kadar kortisol, si hormon stres itu. Pada saat yang sama tubuh justru mengeluarkan endorfin dan oksitosin, hormon bahagia. Tubuh kita seperti punya dua keran: keran gelisah dan keran gembira. Kehadiran hewan menutup keran yang satu dan membuka keran yang lain. Menakjubkan, bukan?
Manfaatnya tidak berhenti di stres. Studi menunjukkan terapi hewan efektif mengurangi gejala depresi dan kecemasan. Hewan memang tidak bisa memberi nasihat. Tetapi kehadirannya yang tenang, setia, dan tidak menghakimi ternyata sudah menjadi dukungan emosional tersendiri. Kadang yang kita butuhkan bukan kata-kata.
Merawat hewan juga menuntut tanggung jawab. Memberi makan, membersihkan, mengajak jalan. Dari tanggung jawab kecil yang rutin itu tumbuh rasa percaya diri dan kemandirian. Dan bagi yang tinggal sendirian, hewan kesayangan adalah teman setia yang selalu ada saat dibutuhkan. Rasa sepi jadi punya lawan.
Yang paling membuat saya takjub: terapi hewan sudah dipakai dalam rehabilitasi sungguhan, baik fisik maupun mental. Anjing terapi menemani anak-anak dengan gangguan spektrum autisme. Kuda dipakai untuk terapi orang dengan kelainan neuromuskular. Ciptaan menolong ciptaan.
Jadi kalau malam ini kucing di rumah melompat ke pangkuan Anda, biarkan sebentar. Bisa jadi dialah obat mujarab yang tidak pernah Anda tebus di apotek.
Sumber: American Veterinary Medical Association (https://www.avma.org/); Mental Health Foundation (https://www.mentalhealth.org.uk/).