Mike Walsh menegaskan kita tidak perlu lebih pintar dari mesin, cukup tahu apa artinya pintar di zaman algoritmik: ubah pikiran, ubah cara kerja, ubah dunia, dan jangan biarkan algoritma menentukan siapa diri kita.
Puluhan tahun film mengajari kita bahwa mesin adalah lawan. Daugherty dan Wilson menunjukkan kursi ketiga: ruang tengah tempat manusia dan mesin duduk berdampingan, dan justru di situ nilai terbesar bersembunyi.
Organisasi yang penuh orang rajin bisa tetap jalan di tempat. Bersama Peter Senge kita belajar bahwa yang unggul bukan yang paling keras bekerja, melainkan yang paling cepat belajar bersama.
Mesin, modal, dan teknologi bisa dibeli siapa saja; orang yang kompeten dan punya hati tidak dijual di toko. Catatan dari pemikiran Gary Dessler tentang mengelola manusia tanpa merendahkannya menjadi alat.
Harga yang berkedip di layar sering hanya fatamorgana; nilai sejati sebuah perusahaan ada pada kas yang akan dihasilkannya. Lima rahasia dunia keuangan, dari nilai intrinsik sampai aset beracun berlabel AAA.
Bertahun-tahun mengurus mesin, saya menyadari hambatan terbesar sebuah organisasi hampir tak pernah ada pada mesinnya. Lewat Human Resource Management, Gary Dessler menegaskan: setiap manajer, suka atau tidak, sebenarnya adalah manajer manusia.
Di dunia yang menyembah kata "upgrade", Jason Hickel lewat Less is More justru bertanya: benarkah kita butuh terus bertambah untuk bahagia? Sebuah ajakan berani untuk mengucap satu kata yang makin langka — cukup.
Kita menghabiskan begitu banyak tenaga mengatur hal-hal di luar kuasa kita, lalu pulang membawa lelah yang sama. Lewat Let Them Theory, Mel Robbins menawarkan obat dua patah kata untuk merebut kembali satu-satunya yang memang bisa kita kendalikan: diri sendiri.
Atom berarti yang tak terbagi, bagian terkecil yang tersisa. Di kata sekecil itu James Clear menaruh seluruh rahasianya: perubahan besar bukan buah ledakan tekad, melainkan kebiasaan kecil satu persen yang menumpuk pelan-pelan.