Hobi

Gaya Hidup Hemat dan Ramah Lingkungan

Transformasi Gaya Hidup: Dari Konsumtif ke Hemat dan Ramah Lingkungan

Hemat pangkal kaya, kata pepatah lama. Zaman sekarang rasanya perlu ditambah: hemat pangkal lestari. Siapa yang tidak senang belanja? Ada kegembiraan kecil setiap kali membawa pulang barang baru. Tapi pernahkah terpikir, bagaimana caranya supaya gaya hidup kita lebih hemat sekaligus lebih ramah pada bumi yang kita tinggali ini? Ternyata jalannya tidak serumit yang dibayangkan.

Mulailah dari lemari pakaian. Ada istilah fast fashion: mode yang berganti cepat dan terus menggoda kita untuk belanja lagi dan lagi. Sayangnya, kebiasaan ini tidak ramah pada lingkungan maupun dompet. Lawannya adalah slow fashion, yang lebih menghargai kualitas pakaian sehingga baju bisa dipakai lebih lama. Takut bosan? Padu-padankan saja yang sudah ada. Lemari yang sama bisa melahirkan gaya yang berbeda-beda, seperti nada-nada yang itu-itu saja tapi bisa disusun jadi lagu baru.

Langkah berikutnya menyangkut plastik. Sudah tidak perlu diragukan lagi betapa besar kerusakan yang ditimbulkannya bagi lingkungan. Caranya menguranginya pun sederhana: membawa tas kain sendiri saat belanja, memakai botol minum yang bisa diisi ulang, dan menghindari makanan berkemasan plastik. Kecil? Memang. Tapi langkah kecil yang dilakukan jutaan orang bukan lagi langkah kecil.

Lalu bagaimana dengan berkebun di rumah? Selain hemat karena tidak perlu membeli sayur dan buah, kebun rumah juga membantu mengurangi emisi gas rumah kaca. Cukup mulai dari halaman atau pot di teras. Ada kepuasan tersendiri memetik hasil dari tanaman yang kita rawat sendiri, semacam mukjizat kecil yang tumbuh pelan-pelan di depan mata.

Untuk urusan bepergian, ada resep yang sudah sangat tua: bersepeda atau jalan kaki. Tidak perlu membayar bensin atau tiket transportasi, polusi udara berkurang, dan tubuh ikut sehat karena keduanya adalah olahraga yang menyenangkan. Satu kebiasaan, tiga keuntungan sekaligus.

Terakhir, belajarlah membuat sendiri, yang biasa disebut do it yourself atau DIY. Sabun, detergen, sampai perabotan rumah tangga dari barang bekas, semuanya bisa dibuat dengan tangan sendiri. Hemat, seru, dan melatih kita jadi lebih kreatif dan mandiri. Barang bekas yang tadinya mau dibuang bisa dipilah, diolah, dan dihidupkan kembali.

Perubahan memang tidak pernah mudah. Tapi setiap langkah kecil yang kita ambil hari ini berdampak besar bagi masa depan kita dan bumi yang kita cintai. Bumi ini titipan, bukan warisan yang boleh dihabiskan. Maka mari mulai dari sekarang, dari kebiasaan yang paling sederhana.

Daftar Pustaka

  1. Center for International Environmental Law. (2019). Plastic & Climate: The Hidden Costs of a Plastic Planet. Dikutip dari: https://www.ciel.org/plasticandclimate/
  2. EcoWatch. (2017). 5 Benefits of Growing Your Own Produce. Dikutip dari: https://www.ecowatch.com/growing-produce-benefits-2458039716.html
  3. United Nations Environment Programme. (2018). Single-use Plastics: A Roadmap for Sustainability. Dikutip dari: https://www.unenvironment.org/resources/report/single-use-plastics-roadmap-sustainability
  4. World Health Organization. (2021). Walking and Cycling for Individual and Population Health Benefits. Dikutip dari: https://www.who.int/publications/i/item/9789240015134
← Post sebelumnya Olahraga Pilihan untuk Menjaga Berat Badan Ideal Post berikutnya → Panduan Lengkap Sistem Suspensi Kendaraan