Hobi

Menjadi Orang yang Lebih Sabar: Tips untuk Mengatasi Frustrasi dan Stres

Ada orang yang bisa menunggu antrean panjang sambil tersenyum. Ada pula yang baru tertahan lampu merah tiga puluh detik sudah gelisah. Saya sering bertanya-tanya, apa rahasianya? Apakah kesabaran itu bakat bawaan, atau keterampilan yang bisa dilatih?

koster_illustration_showcasing_a_person_applying_various_tips_t_d3a20906-01ec-4d2a-a14f-5cedcfe5d299.png

Kabar baiknya, kesabaran bisa dilatih. Dan latihannya dimulai dari hal yang paling sederhana: napas. Saat frustrasi datang, hembuskan napas pelan-pelan. Pernapasan dalam membantu meredakan stres dan mengontrol emosi. Seperti komputer yang mulai lemot; yang dibutuhkan bukan program baru, melainkan jeda untuk memuat ulang.

Setelah napas tenang, alihkan perhatian ke hal-hal positif yang membuat Anda bahagia. Cara ini efektif mengurangi rasa frustrasi. Bantu pula dengan mengatur harapan yang realistis. Banyak kekesalan lahir bukan dari kenyataan yang buruk, tetapi dari harapan yang terlalu tinggi. Jangan terlalu keras pada diri sendiri. Jangan pula pada orang lain.

Kesabaran juga soal cara memandang sesama. Praktikkanlah empati: coba pahami perasaan orang lain, rasakan apa yang mereka rasakan. Pengendara yang menyalip tadi mungkin sedang mengejar sesuatu yang genting. Latihan mindfulness menolong di sini. Ia teknik relaksasi yang mengajak kita fokus pada saat ini dan menerima perasaan tanpa menghakimi. Meditasi sederhana beberapa menit sudah cukup untuk memulai.

Lalu ada langkah yang sering dilupakan: jangan takut minta maaf. Mengakui kesalahan adalah pintu penting untuk keluar dari frustrasi. Dan jangan memikul semuanya sendirian. Berbicaralah dengan orang yang Anda percayai; teman dekat bisa memberi dukungan dan saran yang Anda butuhkan.

Terakhir, tubuh ikut menentukan. Olahraga teratur terbukti mengurangi stres dan menjaga kesehatan mental; berjalan kaki atau bersepeda ringan pun jadi. Tidurlah cukup setiap malam, sebab kurang tidur membuat kita mudah tersinggung. Dan tetapkan batasan: jangan takut mengatakan tidak jika perlu. Orang sabar bukanlah orang yang menampung segalanya, melainkan yang tahu kapan gelasnya penuh.

Sumber:
Mayo Clinic (https://www.mayoclinic.org/)
Psychology Today (https://www.psychologytoday.com/)

← Post sebelumnya Membangun Keterampilan Baru: Ide Menambah Kemampuan dalam Bi... Post berikutnya → Menciptakan Kebiasaan Sehat: Cara Menjaga Kesehatan Fisik da...